Boeing 737 Max Ditangguhkan, Maskapai Merugi Rp 8,46 Triliun

Boeing 737 Max Ditangguhkan, Maskapai Merugi Rp 8,46 Triliun
Pesawat jet Boeing 737 Max milik maskapai Southwest Airlines. ( Foto: USA Today / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 30 April 2019 | 11:23 WIB

New York, Beritasatu.com- Penangguhan operasional pesawat Boeing 737 Max telah mengakibatkan kerugian besar hingga ratusan juta dolar bagi pihak maskapai.

Seperti dilaporkan CNN, Sabtu (27/4), bahkan American Airlines (AAL), Southwest Airlines (LUV), dan maskapai beranggaran Eropa, Norwegia, mengungkapkan minggu ini bahwa penangguhan pesawat Boeing itu akan mengakibatkan kerugian hampir US$ 600 juta (atau 8,46 triliun).

Sebenarnya bukan hanya maskapai yang merasakan kesulitan. Boeing (BA) juga menyatakan awal pekan ini bahwa pendapatannya turun 21% dalam tiga bulan pertama tahun ini karena krisis operasional.

Perusahaan itu tidak mengeluarkan seluruh biaya hasil dari krisis 737 Max. Tetapi dalam presentasi kepada para investor, mereka mengatakan telah membukukan biaya yang berkaitan dengan memperbaiki masalah-masalah pesawat.

Maskapai mulai mendaratkan 737 Max pada Maret setelah salah satu pesawat yang diterbangkan oleh Ethiopian Airlines jatuh, menewaskan semua orang di dalamnya. Kecelakaan Ethiopian adalah kecelakaan kedua yang melibatkan model jet dalam waktu kurang dari enam bulan, setelah diterbangkan oleh Lion Air Indonesia Oktober lalu. Kecelakaan itu menewaskan 346 orang secara total.

Penangguhan Boeing 737 Max akan memasuki bulan kedua dan Boeing belum menyatakan kapan perbaikan untuk 737 Max akan diluncurkan. American, yang memiliki 24 unit dari pesawat jet 737 Max dalam armadanya, menyatakan Jumat (26/4) bahwa pihaknya memperkirakan landasan akan menelan biaya US$ 350 juta tahun ini. American telah membatalkan sekitar 115 penerbangan per hari hingga 19 Agustus.

Keluhan serupa juga disampaikan maskapai Southwest, yang lebih banyak unit jet 737 Max daripada maskapai AS lainnya. Southwest menyatakan dalam laporan pendapatannya Kamis (25/4) bahwa penangguhan operasi dan "beberapa peristiwa tak terduga" lainnya - termasuk penutupan pemerintah - menelan biaya US$ 200 juta pada kuartal pertama. Maskapai berbiaya rendah telah membatalkan beberapa penerbangan yang berencana menggunakan 737 Max hingga 5 Agustus.



Sumber: Suara Pembaruan