Per 1 Juni, Tiongkok Naikkan Tarif 5.000 Produk AS

Per 1 Juni, Tiongkok Naikkan Tarif 5.000 Produk AS
Kapal kontainer tampak merapat di Pelabuhan Oakland pada 13 Mei 2019, di Oakland, California. Tiongkok membalas tarif pajak Presiden AS Donald Trump atas barang Tiongkok yang masuk ke Amerika Serikat. ( Foto: AFP / Justin Sullivan )
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 14 Mei 2019 | 13:37 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Pemerintah Tiongkok akan menaikkan tarif impor hingga 25% terhadap lebih dari 5.000 produk Amerika Serikat (AS), dengan nilai mencapai US$ 60 miliar.

Hal itu, merupakan tindakan balasan Tiongkok terhadap AS yang telah menaikan tarif impor barang Tiongkok sebesar 25% dengan nilai mencapai US$ 325 miliar per 10 Juni 2019.

Pada Senin (13/5/2019), Kementerian Keuangan Tiongkok menyatakan akan menaikan tarif impor antara 20% hingga 25% atau mengalami kenaikan dari tarif sebelumnya yang sekitar 10%.

“Kami masih menghitung barang apa saja yang akan mengalami kenaikan sebesar 25% dan berapa yang meningkat 20%,” bunyi pernyataan Kementerian Keuangan Tiongkok, di Beijing, Senin (13/5/2019).

Meski belum disebutkan, kenaikan tarif impor terbaru dari Tiongkok kemungkinan akan diberlakukan untuk sebagian besar produk AS yang diekspor ke negara itu.

Diperkirakan sektor yang akan sangat terpukul dengan kenaikan tarif baru impor dari Tiongkok adalah dari sektor pertanian dan peternakan AS, antara lain kacang, gulam gandum, ayam dan kalkun.

Kenaikan tarif tersebut sesuai dengan ancaman Tiongkok sebelumnya, setelah AS menerapkan kenaikan tarif baru terhadap produk Tiongkok pada 10 Juni 2019, meskipun negosiasi perdagangan antarkedua negara sedang berlangsung.

Aksi balasan Tiongkok tersebut membuat pasar saham dunia jatuh ke zona negatif pada perdagangan Senin (13/5). Investor memilih menahan diri karena bersiap untuk menghadapi dampak dari perang dagang antara AS dan Tingkok yang kembali memanas setelah enam bulan tertunda.

Pad akhir Oktober 2018, Tiongkok dan AS setuju untuk melakukan gencatan perang dagang, dan memulai negosiasi antarkedua pihak. Pada pekan lalu, tim negosiasi dari kedua negara seharusnya dapat mencapai kesepakatan akhir untuk menyelesaikan perang dagang

Namun kesepakatan dagang yang sudah mencapai tahap akhir itu hancur seiring dengan pengumuman Presiden AS, Donald Trump, untuk meningkatkan tarif baru barang impor Tiongkok hingga 25%. Donald Trump menuding Tiongkok telah melanggar kesepakatan, meskipun tidak merinci hal apa saja yang ditolak Tiongkok. 



Sumber: Suara Pembaruan