Donald Trump Ingin Bertemu dengan Xi Jinping

Donald Trump Ingin Bertemu dengan Xi Jinping
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. ( Foto: AFP )
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 14 Mei 2019 | 14:57 WIB

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan keinginan untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, disela-sela penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20, di Tokyo, Jepang, pada akhir Juni 2019.

Pernyataan itu, disampaikan Donald Trump, di Gedung Putih, Senin (13/5/2019), setelah Tiongkok mengumumkan aksi balasan dengan menaikkan tarif impor produk AS sebesar 25% senilai US$ 60 juta, per 1 Juni 2019.

Donald Trump memperkirakan bahwa pertemuannya dengan Xi kemungkinan akan sangat “membuahkan hasil". Dia meyakini Tiogkok juga ingin mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan perang dagang antarkedua negara.

Menurut Donald Trump, progres untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok sangat memungkinkan, karena negosiasi yang dilakukan oleh delegasi perdagangan kedua negara selama enam bulan terakhir sudah mencapai 95%.

Menanggapi aksi balasan Tiongkok dengan menaikan tarif terhadap baarang-barang AS per 1 Juni 2019, Trump mengatakan hal itu justru akan menjadi acuan baru untuk agenda pertemuannya dengan Presiden Xi.

“Kami akan memberitahu Anda dalam tiga atau empat minggu jika itu berhasil. Saya katakan, itu bagus, tidak apa-apa dengan kenaikan tarif. Saya suka dengan posisi kita sekarang ini,” ujar Donald Trump, di Gedung Putih, Washington, AS, Senin (13/5/2019).

Sejumlah pengamat menilai perang dagang AS-Tiongkok yang kembali berkecamuk akan membawa dampak negatif bagi pasar keuangan dan perdagangan pada semester I Tahun 2019.

Meski demikian, posisi AS dinilai lebih baik dari Tiongkok, mengingat kenaikan tarif yang diberlakukan mencapai nilai US$ 350 miliar, sedangkan kenaikan tarif Tiongkok hanya sekitar US$ 60 miliar.

Penasehat ekonomi utama Presiden Trump, Larry Kudlow, mengatakan bahwa kenaikan tarif yang diberlakukan kedua negara setelah perundingan dagang yang berakhir gagal pekan lalu, masih dapat dinegosiasikan kembali.

Saat ini, lanjutnya, AS dan Tiongkok akan sama-sama menghadapi dampak dari kenaikan tarif baru, meskipun sebenarnya perang dagang antar kedua negara juga berimbas bagi perekonomian dunia.

“Cukup adil. Faktanya kedua belah pihak akan sama-sama membayar (kenaikan tarif, Red),” ujar Larry Kudlow.



Sumber: Suara Pembaruan/CNBC