April 2019, Boeing Tak Terima Pesanan Pesawat

April 2019, Boeing Tak Terima Pesanan Pesawat
Pejabat Administrasi Penerbangan Federal, Daniel Elwell (tengah) dan Direktur Eksekutif Layanan Sertifikasi Pesawat FAA, Earl Lawrence (kiri), menghadiri audiensi mengenai pesawat Boeing 737 MAX, yang diselenggarakan Komite Transportasi dan Infrastruktur Kongres AS, di Rayburn House, Capitol Hill, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (15/5). ( Foto: AFP / Chip Somodevilla )
Unggul Wirawan / JAI Kamis, 16 Mei 2019 | 15:14 WIB

New York, Beritasatu.com - Produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, tidak menerima pesanan baru untuk pesawat jenis apapun, pada April 2019.

Tak hanya pesawat Boeing 737 Max yang bermasalah dan ditangguhkan operasinya sejak 13 Maret 2019, jenis pesawat Boeing 787 Dreamliner atau Boeing Dreamliner 777 juga tidak dijual.

Boeing melaporkan beberapa pesanan untuk jet lainnya pada akhir Maret, bahkan setelah kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines pada Maret 2019 dan penangguhan 737 Max.

Terakhir, Lufthansa pernah memesan 20 unit jet Boeing 787 pada 15 Maret, dan British Airways memesan 18 unit jet 777X pada 22 Maret.

Tetapi satu-satunya pesanan yang dilaporkan oleh Boeing untuk April 2019 adalah entri pembukuan: empat unit jet 737 Max yang telah dijual ke Boeing Capital pada masa lalu dipindahkan ke penyimpanan yang tidak dikenal bulan lalu.

Di sisi lain, Boeing tidak menganggap empat unit jet 737 Max sebagai pesanan baru. Sebagai ganti, perusahaan Boeing mereklasifikasi penjualan yang sudah dilaporkan pada kuartal pertama.

Tidak satu pun dari model jet Boeing lainnya yang mengalami kecelakaan, dan maskapai penerbangan belum melaporkan masalah keselamatan selain 737 Max.

Namun Philip Baggaley, analis kredit utama untuk sektor transportasi untuk Standard & Poor's menilai masalah 737 Max bisa jadi alasan maskapai menunda pesanan untuk jenis jet lain. Hal itu, dinilai akan membuat pendapatan Boeing merosot tajam pada semester I 2019.

“Boeing memiliki kuartal pertama yang mengerikan dalam hal pesanan [sebelum kecelakaan Etiopia] dan mereka mengalahkan Airbus,” kata Richard Aboulafia, analis dirgantara untuk Grup Teal.

Eksekutif dari beberapa maskapai, termasuk Norwegian Air dan United Airlines (UAL), berharap untuk mencapai kesepakatan dengan Boeing mengenai beberapa bentuk kompensasi sebagai akibat dari pesawat 737 Max yang mereka miliki.

Seperti dilaporkan CNN, Rabu (15/5), sebelum kecelakaan Boeing 737 Max di Etiopia, para pilot American Airlines pernah menyampaikan kemarahan atas sistem perangkat lunak pesawat. Sebaliknya Boeing berjanji akan memperbaiki sistem itu dalam enam minggu.

"Kami benar-benar pantas mengetahui apa yang ada di pesawat kami. Orang-orang ini bahkan tidak tahu sistem sialan ada di pesawat. Tidak juga orang lain," kata seorang pilot yang merujuk pada pilot Lion Air.

 



Sumber: Suara Pembaruan/CNN