Boeing Dituntut US$ 276 Juta oleh Janda Korban Ethiopian Airlines

Boeing Dituntut US$ 276 Juta oleh Janda Korban Ethiopian Airlines
Britt-Marie Seex (tengah) berbicara di konferensi pers bersama dengan Nadege Dubois-Seex (kanan) di Paris pada Selasa (21/5/2019) di samping potret almarhum Jonathan Seex yang tewas dalam kecelakaan Ethiopian Airlines Boeing 737 Max 8. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 23 Mei 2019 | 11:57 WIB

Paris, Beritasatu.com- Seorang perempuan Prancis yang suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan 302 pada Maret lalu, telah mengajukan gugatan hukum Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaan yang memasok pesawat tersebut, Boeing. Janda itu menuntut sampai US$ 276 juta (sekitar Rp 4 triliun).

Kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines yang berjenis Boeing 737 MAX telah menewaskan seluruh penumpang dan kru sebanyak 157 orang. Insiden itu terjadi setelah jatuhnya pesawat jenis sama dari Indonesia yaitu Lion Air 737 MAX pada Oktober 2018 yang menewaskan 189 orang.

Puluhan keluarga di Indonesia telah mengajukan tuntutan kepada Boeing terkait kecelakaan Lion Air. Beberapa gugatan juga telah dimasukkan atas kecelakaan Ethiopian yang terjadi di dekat ibu kota Addis Ababa.

Janda Prancis bernama Nadege Dubois-Seex mengajukan gugatan untuk suaminya, Jonathan Seex, yaitu warga Swedia dan Kenya, serta kepala eksekutif dari Kelompok Perusahaan Tamarind. Gugatan Nadege telah dimasukkan ke pengadilan di Chicago, berdasarkan keterangan pengacaranya, Selasa (21/5).

Dalam gugatan itu, Boeing disebut gagal memberikan informasi secara baik tentang risiko dari perangkat lunak untuk mencegah pesawat jenis 737 MAX itu mengalami kemacetan yang berulang kali menurunkan sensor hidung pesawat karena kesalahan data.

“Kami telah mempelajari bahwa Boeing mengandalkan satu sensor yang sebelumnya telah ditandai oleh lebih dari 200 laporan insiden yang dimasukkan kepada FAA (Administrasi Penerbangan Federal AS),” kata jaksa AS, Nomaan Husain.

Dua juru bicara Boeing di Eropa tidak menjawab permintaan tanggapan terkait gugatan itu. “Keluarga kami telah kehilangan ksatria yang bersinar dan dunia telah kehilangan wirausaha yang cemerlang,” kata Nadege lewat pernyataannya.

Pekan lalu, Boeing menyatakan telah menyelesaikan pembaruan dari piranti lunak 737 MAX dan dalam proses untuk mengajukan rencana pelatihan pilot kepada FAA. Sejauh ini masih belum jelas kapan pesawat 737 MAX menerima persetujuan FAA untuk kembali beroperasi.



Sumber: Suara Pembaruan