Pentagon Paparkan Opsi Serangan untuk Iran

Pentagon Paparkan Opsi Serangan untuk Iran
Pejabat Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Patrick Shanahan (kiri) bersama Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, memberikan pernyataan seusai memberi penjelasan kepada senator di auditorium Capitol Visitors Centel, Capitol Hill, di Washington, pada 21 Mei 2019. ( Foto: AFP / MANDEL NGAN )
Jeany Aipassa / JAI Jumat, 24 Mei 2019 | 15:48 WIB

Washington, Beritasatu.com - Beberapa sumber Gedung Putih mengatakan, Pentagon telah memaparkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran kepada Presiden Donald Trump. 

Pemaparan tersebut, disampaikan penjabat Menteri Pertahanan Patrick Shanahan dan Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Joseph Dunford kepada Donald Trump dan sejumlah pejabat keamanan, di Gedung Putih, Kamis (23/5/2019) siang waktu setempat.

Sumber itu mengungkapkan, pemaparan terutama berkaitan dengan kesiapan pasukan AS dan tanggapan Pentagon atas permintaan penambahan pasukan di kawasan Timur Tengah oleh Pusat Komando AS.

Patrick Shanahan mengakui Pusat Komando AS meminta penambahan pasukan untuk mengantisipasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama dengan Iran. Namun dia membantah bahwa Pentagon akan mengirim sekitar 10.000 pasukan tambahan.

“Apa yang kita lakukan untuk meningkatkan perlindungan pasukan di Timur Tengah. Ini mungkin melibatkan pengiriman pasukan tambahan, tapi tidak dalam jumlah yang sebesar itu (10.000 tentara, Red),” ujar Patrick Shanahan.

Ketegangan antara AS-Iran meningkat sejak AS memutuskan keluar dari Perjanjian Nuklir Iran Tahun 2015, pada Mei 2018. AS kemudian menjatuhkan sejumlah sanksi kepada Iran, termasuk sanksi ekspor minyak yang membuat negara itu kesulitan menjual minyak di pasar global.

Pada awal Mei 2019, Iran mengancam akan meninggalkan Perjanjian Nuklir yang masih didukung oleh negara-negara Eropa, jika persyaratan dalam perjanjian itu tidak diubah dan Eropa gagal mendesak AS untuk tidak menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

Sementara itu, Presiden Iran, Hassan Rouhani, telah menyatakan negaranya siap menanggapi dan membalas serangan militer AS, dengan serangan yang "merusak".



Sumber: AFP/VoA/Suara Pembaruan