Bayi Migran Venezuela Terancam Tanpa Kewarganegaraan

Bayi Migran Venezuela Terancam Tanpa Kewarganegaraan
Seorang wanita Venezuela memberikan makanan kepada bayinya di tempat pengungsian migran, di Cucuta, Kolumbia. ( Foto: AFP / SCHNEYDER MENDOZA )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 31 Mei 2019 | 13:59 WIB

Cucuta, Beritasatu.com- Ribuan eksodus Venezuela menimbulkan kekhawatiran terhadap status bayi yang tidak memiliki kewarganegaraan. Para ahli kewarganegaraan mengatakan tanggung jawab ada di Kolombia untuk mengoreksi status anak-anak Venezuela yang lahir di wilayahnya.

Seorang ibu bernama Arelys Pulido pernah kehilangan seorang bayi di rumah sakit Venezuela yang terabaikan. Waktu itu, persediaan obat-obatan dan medis di Venezuela sangat sedikit. Alhasil ketika hamil lagi, dia memutuskan untuk melahirkan di negeri asing.

Arelys Pulido mengepak koper-koper penuh dengan pakaian dan beberapa patung keramik suci dari orang-orang kudus. Patung-patung itu diharapkan akan memberikan “perlindungan” bagi Pulido dan bayinya yang belum lahir ketika melewati salah satu perlintasan ilegal yang berbahaya ke Kolombia.

Awal tahun ini, Zuleidys Antonella Primera lahir, seorang bayi perempuan yang hidup dengan rambut dan mata gelap. Seolah bayi itu tidak menunjukkan sedikit pun perjalanan berat yang harus dilalui ibunya. Pulido bisa melahirkan bayinya di rumah sakit di seberang perbatasan kota Cúcuta.

Namun Zuleidys kecil sejauh ini tidak memiliki kewarganegaraan dari negara orang tuanya melarikan diri atau tempat di mana dia dilahirkan. Dia adalah salah satu dari semakin banyak anak yang lahir dari migran Venezuela yang tidak berdokumen di Kolombia yang pada dasarnya tidak memiliki kewarganegaraan.

"Itu satu hal lagi yang perlu dikhawatirkan," kata José Antonio Primera, ayah bayi itu, seorang mantan perwira militer yang sekarang terpaksa mengecat sepeda motor untuk mencari nafkah.

Saat ini, anak-anak yang lahir dari migran harus memenuhi syarat untuk kewarganegaraan Venezuela, mereka perlu mendaftar secara resmi di konsulat atau bepergian ke Venezuela untuk mendapatkannya. Kedua opsi tidak mungkin bagi banyak keluarga. Mereka tidak ingin kembali sampai kondisi membaik dan konsulat ditutup setelah Presiden Nicolás Maduro memutuskan hubungan diplomatik dengan Kolombia pada Februari 2019.

Pemerintah Kolombia memberikan perawatan kesehatan penuh kepada bayi baru lahir selama tahun pertama kehidupan dan memungkinkan mereka untuk mendaftar di sekolah.

Tetapi para ahli kewarganegaraan khawatir bahwa jika krisis Venezuela berlarut-larut selama bertahun-tahun. Anak-anak migran dapat mendekati dewasa tanpa hak-hak utama seperti kemampuan untuk melakukan perjalanan secara legal seperti membeli properti atau menikah.



Sumber: Suara Pembaruan