Buka Perbatasan, Maduro Singgung Penentuan Nasib Rakyat Venezuela

Buka Perbatasan, Maduro Singgung Penentuan Nasib Rakyat Venezuela
Presiden Venezuela Nicolas Maduro berbicara dalam rapat umum di depan Istana Presiden Miraflores di Caracas, Senin (20/5/2019). ( Foto: AFP / MARVIN RECINOS )
Jeany Aipassa / JAI Senin, 10 Juni 2019 | 15:25 WIB

Caracas, Beritasatu.com - Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menyinggung nasib warga Venezuela terkait keputusannya untuk membuka kembali perbatasan dengan Kolombia yang telah ditutup selama empat bulan.

Menurut Nicolas Maduro, pembukaan perbatasan dengan Kolombia dilakukan untuk kepentingan dan penentuan nasib rakyat Venezuela tanpa intervensi pihak asing.

“Kami adalah orang-orang yang damai yang dengan tegas membela kemerdekaan dan penentuan nasib kami sendiri,” kata Nicolas Maduro, dalam cuitannya saat mengumumkan pembukaan perbatasan dengan Kolombia, melalui akun Twitter-nya.

Perbatasan Venezuela-Kolombia ditutup sejak awal Februari 2019 atas perintah Nicolas Maduro untuk memblokir bantuan kemanusiaan yang diupayakan kelompok oposisi di bawah kepemimpinan Juan Guaido yang telah memproklamirkan diri sebagai presiden sementara negara itu.

Pada Sabtu (8/6/2019), Nicolas Maduro telah memerintahkan pembukaan perbatasan Venezuela-Kolombia, tepatnya di bagian barat Kota Tachira, yang merupakan lokasi perhentian bantuan kemanusiaan dari beberapa negara dan lembaga internasional.

Pembukaan kembali perbatasan Veneuela-Kolombia diyakini menjadi tindak lanjut dari pertemuan rezim dan oposisi Venezuela yang berlangsung di Oslo, Norwegia, baru-baru ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendesak kedua pihak berdamai untuk mencari solusi mengatasi krisis Venezuela yang telah menyebabkan jutaan warga mengungsi.

Badan Pengungsi PBB, UNHCR, melaporkan lebih dari 4 juta pengungsi dan migran telah melarikan diri dari Venezuela sejak 2015. Dalam tujuh bulan sejak November 2018, jumlah pengungsi dan migran meningkat sebesar 1 juta.

Negara-negara Amerika Latin menampung sebagian besar rakyat Venezuela yang mengungsi. Kolombia menampung sekitar 1,3 juta pengungsi, Peru sebanyak 768.000 pengungsi, sedangkan Chili, Ekuador, Argentina dan Brasil masing-masing menampung sekitar 100.000 pengungsi asal Venezuela.



Sumber: AFP/NPR/Suara Pembaruan