Perbatasan Dibuka, Warga Venezuela Berobat ke Kolombia

Perbatasan Dibuka, Warga Venezuela Berobat ke Kolombia
Warga Venezuela menyeberangi Jembatan Internasional Simon Bolivar, perbatasan Venezuela-Kolombia, Minggu (9/6/2019), setelah Pemerintah Venezuela memutuskan membuka perbatasan antar kedua negara. Pemerintah Venezuela masih meletakan kontainer untuk memboikot arus kendaraan terutama truk bantuan dari Cacuta, Kolombia, ke Tachira, Venezuela. ( Foto: AFP / EDINSON ESTUPI√ĎAN )
Jeany Aipassa / JAI Senin, 10 Juni 2019 | 15:57 WIB

Caracas, Beritasatu.com - Ribuan warga Venezuela yang mengungsi ke Kolombia mengaku ingin berobat karena tak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai di Venezuela.

Ribuan warga Venezuela rela mengantri berjam-jam di Jembatan Internasional Simon Bolivar yang menghubungkan Venezuela dengan Kolombia, setelah pemerintah mengumumkan pembukaan kembali perbatasan, pada Sabtu (8/6/2019).

Banyak warga yang mengaku ingin mencari bahan kebutuhan pokok dan tempat berobat untuk anggota keluarga mereka yang sakit dan belum mendapat pelayanan kesehatan akibat krisis yang melanda Venezuela.

“Kedua putri saya menderita demam berdarah. Mereka demam, dan harus segera dirawat di Kolombia,” kata Belky Rangel (34), yang menunggu selama tiga jam untuk menyeberang dari Tachira, Venezuela, ke Cacuta, Kolombia.

Kepala Layanan Migrasi di Kolombia, Christian Krueger, mengatakan sekitar 18.000 orang telah melintasi perbatasan dari Venezuela dan 8.000 dari Kolombia.

Sebelum perbatasan ditutup pada awal Februari 2019, sekitar 30.000 orang menyeberangi Jembatan Internasional Simon Bolivar setiap hari, dari San Antonio del Tachira, Venezuela, ke Cucuta, Kolombia.

Meski telah membuka perbatasan, namun tentara Venezuela tetap menempatkan kontainer di Jembatan Internasional Simon Bolivar untuk menghalangi masuknya truk bantuan kemanusiaan ke wilayah Venezuela.

Krisis yang melanda Venezuela telah membuat negara itu mengalami kekurangan stok bahan kebutuhan pokok dan obat-obatan. Tak hanya itu, Venezuela juga sempat mengalami krisis listrik hingga terjadi pemadaman selama lebih dari tiga minggu.



Sumber: AFP/NPR/Suara Pembaruan