Kim Jong-nam Ternyata Agen CIA

Kim Jong-nam Ternyata Agen CIA
Almarhum Kim Jong-nam. ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 12 Juni 2019 | 16:11 WIB

New York, Beritasatu.com - Kim Jong-nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara (Korut), yang tewas terbunuh di Malaysia pada Februari 2017, disebut menjadi agen atau informan Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA).

Laporan tentang Kim Jong-nam adalah informan CIA dibeberkan surat kabar The Wall Street Journal, pada Senin (10/6/2019). Namun laporan tersebut dibantah Presiden AS, Donald Trump, yang justru membuat pernyataan bahwa dirinya telah menerima surat yang indah dari Pemimpin Korut, Kim Jong-un. Pernyataan tersebut, disampaikan Donald Trump, pada Selasa (11/6/2019), atau sehari setelah pemberitaan Wall Street Journal mengenai Kim Jong-nam.

Kim Jong-nam tewas pada Februari 2017 di bandara Kuala Lumpur karena diduga dibunuh oleh racun syaraf. Pembunuhan Kim Jong-nam hingga kini masih menjadi misteri, karena dua tersangka perempuan yang disebut menaruh racun ke wajahnya telah dibebaskan. Salah satunya adalah warga negara Indonesia (WNI) Siti Aisyah.

Terkait hal itu, Donald Trump, mengatakan dirinya menentang pemanfaatan informan CIA untuk memata-matai Kim Jong-un. Trump menegaskan hal seperti itu tidak akan terjadi di bawah pengawasannya.

“Saya melihat informasi tentang CIA, dengan menghormati kakaknya atau kakak tirinya, saya akan katakan kepadanya itu tidak akan terjadi di bawah naungan saya, itu pasti,” kata Trump.

Di pihak lain, media pemerintah Korut, KCNA, menyerukan agar AS menarik kebijakan permusuhannya terhadap Pyongyang, atau Korut mengancam pertemuan bersejarah di Singapura setahun lalu mungkin hanya akan mnjadi “selembar kertas kosong”.

Pernyataan tersebut menggemakan peringatan senada pekan lalu, yang mencerminkan kebuntuan sejak pertemuan kedua antara Trump dan Jong-un di Hanoi.

Saat itu, Washington menuntut kesepakatan denulirisasi yang komprehensif, sedangkan Pyongyang mendesak proses selangkah demi selangkah dan meminta pencabutan sanksi-sanksi ekonomi sebagai imbalan penutupan kompleks nuklir Yongbyon.



Sumber: Al Jazeera/Reuters/ Suara Pembaruan