Dua Kapal Tanker Diserang

AS Desak DK PBB Selidiki Iran

AS Desak DK PBB Selidiki Iran
Duta Besar sementara Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jonathan Cohen. ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 14 Juni 2019 | 13:11 WIB

New York, Beritasatu.com - Amerika Serikat (AS) mendesak rapat khusus Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk menyelidiki Iran, terkait dengan insiden serangan misterius terhadap dua kapal tanker di Teluk Oman, Kamis (13/6/2019).

Duta Besar (Dubes) sementara AS untuk PBB, Jonathan Cohen, meminta dilakukannya konsultasi tertutup DK PBB. Hal itu, disampaikan Cohen dalam rapat Dewan Keamanan (DK) PBB, Kamis (13/6/2019).

“Serangan ini merupakan contoh aktivitas destablisasi oleh Iran di kawasan Timur Tengah,” ujar Cohen.

Dia mengatakan, persoalan tersebut perlu dibahas dalam rapat konsultasi tertutup DK PBB. Namun, DK menolak membuat reaksi atau resmi atas serangan tersebut.

Dubes Kuwait untuk PBB, Mansour al-Otaibi, menyatakan negaranya senang topik itu dibahas oleh DK PBB. Namun menurutnya, tidak ada negara yang memiliki bukti untuk saling menunjuk siapa yang bertanggung jawab.

Pada Kamis (13/6), dua kapal tanker milik Norwegia dan Jerman yang berada di Teluk Oman, mengalami ledakan yang diduga disebabkan oleh serangan misterius.

Dua kapal tanker yang mengalami kebakaran, satu diantaranya membawa minyak dan lainnya mengangkut muatan bahan kimia, adalah kapal MT Front Altair milik Norwegia dan Kokuka Courageous milik Jepang.

Pihak operator kedua kapal taner tersebut belum memberikan penjelasan terkait siapa dan penyebab kerusakan. Namun, pemilik kapal menyatakan seluruh krunya berhasil dievakuasi dan selamat.

Baik Iran maupun AS menyebut sama-sama membantu proses evakuasi para kru saat kedua kapal diserang. Kantor Berita Iran, IRNA, melaporkan pencarian dan penyelamatan tim Iran berhasil menolong 44 pelaut, yaitu 21 orang dari Kokuka Courageous dan 23 dari Front Altair. Sedangkan, Armada Kelima Angkatan Laut AS juga mengaku membantu upaya penyelamatan setelah menerima dua panggilan darurat.



Sumber: BBC/CNN/AFP/Suara Pembaruan