Pemerintah Venezuela Gagalkan Rencana Kudeta dan Pembunuhan Maduro

Pemerintah Venezuela Gagalkan Rencana Kudeta dan Pembunuhan Maduro
Presiden Venezuela Nicolas Maduro berbicara dalam rapat umum di depan Istana Presiden Miraflores di Caracas, Senin (20/5/2019). ( Foto: AFP / MARVIN RECINOS )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 27 Juni 2019 | 20:19 WIB

Caracas, Beritasatu.com- Pemerintah sosialis Venezuela, Rabu (26/6), mengklaim telah menggagalkan rencana untuk menggulingkan kekuasaan, termasuk dengan membunuh Presiden Nicolas Maduro dan sekutu-sekutu politik terdekatnya. Lewat sejumlah bukti, otoritas Venezuela menyebut rencana kudeta itu melibatkan puluhan orang termasuk banyak perwira militer dan polisi aktif dan pensiunan.

Menteri Informasi Jorge Rodriguez mengatakan pemerintah memiliki lebih dari 56 jam rekaman video dari rapat-rapat komplotan kudeta. Rencana kudeta itu akan dieksekusi pada Minggu (23/6) dan Senin (24/6). Rezim Maduro mengklaim telah melacak rencana itu selama 14 bulan.

“Kami hadir di seluruh pertemuan untuk rencana kudeta. Kami berada di semua konferensi,” kata Rodriguez.

Rodriguez menuding presiden sayap kanan Kolombia, Ivan Duque, merencanakan kudeta, pembunuhan presiden, juga melibatkan presiden konservatif Cile, Sebastian Pinera, dan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS), John Bolton. Dia juga menyalahkan pemimpin oposisi Juan Guaido karena merencanakan “pertumpahan darah”.

“Lebih dari dua lusin orang, dibantu oleh agen-agen teroris Israel, AS, dan Kolombia, berencana memblokir jalan raya Caracas dan merebut unit-unit intelijen dan militer,” kata Rodriguez, yang menambahkan bahwa pensiunan jenderal Eduardo Paez sebagai pemimpin salah satu operasi.

Dia menyebut para perencana kudeta juga berniat membunuh Wakil Presiden Partai Sosialis Diosdado Cabello dan pemimpin pemerintahan lainnya, bersamaan pengeboman infrastruktur telekomunikasi dan penyitaan senjata di markas bank sentral.

Setidaknya enam tersangka dari komplotan kudeta itu telah ditahan. Kesaksian salah satu dari mereka bernama Letnan Carlos Saavedra, diperlihatkan lewat video.

Empat dari perwira ditangkap pada Jumat (21/6), memicu kecaman dari Guaido karena tidak ada rincian tentang keadaan atau alasan penangkapan mereka.



Sumber: Suara Pembaruan