Demi Penghematan, Boeing Alih Dayakan Perangkat Lunak 737 MAX

Demi Penghematan, Boeing Alih Dayakan Perangkat Lunak 737 MAX
Para petugas memeriksa kokpit pesawat Boeing 737 MAX 8 di Fasilitas Perawatan Garuda di Bandara Soekarno- Hatta, Jakarta. ( Foto: AP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 3 Juli 2019 | 19:47 WIB

Chicago, Beritasatu.com- Boeing ternyata telah menggunakan jasa perusahaan alih daya untuk pengembangan perangkat lunak untuk subkontraktor dibayar rendah untuk menghemat biaya.

Menurut temuan Bloomberg yang dikutip RT, Minggu (30/6), praktik kontrol kualitas yang tidak memadai mungkin telah berkontribusi pada kecelakaan fatal 737 MAX.

Para programmer yang baru lulus dipekerjakan oleh pengembang perangkat lunak pihak ketiga yakni Indian HCL Technologies Ltd dan Cyient Ltd. Para perancang program itu mendapat bayaran US$ 9 per jam, kira-kira empat kali lebih sedikit daripada insinyur Boeing berpengalaman yang dirumahkan.

Boeing dilaporkan mengalihdayakan perangkat lunak dan program tampilan penerbangan untuk peralatan uji terbang. Saat kode final diduga memenuhi spesifikasi ketat mereka, efisiensi pekerjaan tersebut justru di bawah harapan, karena subkontraktor ditekan untuk menghindari perubahan besar yang dapat menyebabkan keterlambatan.

“Itu kontroversial karena jauh lebih efisien daripada insinyur Boeing hanya menulis kode,” kata Mark Rabin, seorang mantan insinyur perangkat lunak Boeing yang bekerja dalam kelompok uji penerbangan yang mendukung MAX, kepada Bloomberg.

Perusahaan raksasa dirgantara Amerika itu berada dalam gejolak setelah dua kecelakaan 737 MAX yang menewaskan 346 jiwa.

Kecelakaan Lion Air di Indonesia dan bencana Ethiopian Airlines terkait dengan pekerjaan yang tidak tepat dari Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), yang dirancang untuk mencegah pesawat macet, tetapi malah membuat hidung pesawat menukik.



Sumber: Suara Pembaruan