Korban Boeing 737 MAX 8 Akan Dapat Santunan US$ 100 Juta

Korban Boeing 737 MAX 8 Akan Dapat Santunan US$ 100 Juta
AFP / ANDREW CABALLERO-REYNOLDS Nadia Milleron, ibu Samya Stumo yang terbunuh dalam kecelakaan Ethiopian Airlines 302, bereaksi sebelum sidang dengar pendapat subkomite penerbangan tentang "Status Boeing 737 MAX: Perspektif Pemangku Kepentingan" di Capitol, Washington, DC, AS, pada 19 Juni 2019. ( Foto: AFP / ANDREW CABALLERO-REYNOLDS )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 4 Juli 2019 | 19:42 WIB

New York, Beritasatu.com- Produsen pesawat, Boeing akan membayar santunan US$ 100 juta (Rp 1,41 triliun) untuk membantu para keluarga dan komunitas keluarga korban yang meninggal dalam dua kecelakaan pesawat 737 MAX pada tahun 2018.

Seperti dilaporkan CNN, Rabu (3/7), perusahaan menyatakan uang itu akan diberikan kepada organisasi nirlaba lokal dan kelompok masyarakat yang akan mendistribusikan dana kepada kerabat 346 orang yang meninggal.

“Uang santunan akan digunakan untuk mendukung pendidikan, termasuk biaya kuliah atau biaya sekolah lainnya untuk anak-anak korban, dan kesulitan atau biaya hidup untuk keluarga yang terkena dampak,” kata Boeing (BA).

Berita itu tidak direspons dengan baik oleh keluarga korban yang telah menggugat perusahaan, menurut pengacara Bob Clifford, yang mewakili puluhan keluarga yang terkena dampak kecelakaan Boeing 737 MAX pada Maret 2019 di Ethiopia.

“Jenis penawaran ini sangat awal dalam proses litigasi belum pernah terjadi sebelumnya. Karena masih banyak yang harus dipelajari tentang apa yang terjadi, Boeing juga tampaknya tidak jujur,” kata Clifford dalam pernyataan melalui surel.

Clifford mengkritik tawaran Boeing sebagai tindakan "tidak jelas". Dia menambahkan bahwa keluarga kurang tertarik pada uang tunai dibanding mendapatkan jenazah orang yang mereka cintai dari lokasi kecelakaan, yang sejauh ini dianggap prosesnya "sangat lambat".

Seorang juru bicara Boeing mengatakan bahwa orang yang menerima dana dari dana kompensasi US$ 100 juta tidak akan diharuskan untuk membatalkan gugatan hukum terhadap perusahaan. Di sisi lain, juru bicara itu menolak berkomentar lebih lanjut tentang tuntutan hukum Boeing yang sedang berlangsung.

“Kami di Boeing menyesal atas kematian tragis dalam kedua kecelakaan tersebut dan nyawa yang hilang ini akan terus membebani hati kami dan pikiran kami selama bertahun-tahun yang akan datang. Keluarga dan orang-orang terkasih dari mereka yang ada di pesawat menjadi masalah terdalam kami. simpati, dan kami berharap upaya awal ini dapat membantu memberi mereka kenyamanan,” kata Dennis Muilenburg, Ketua, Presiden dan CEO Boeing.



Sumber: Suara Pembaruan