Buntut 737 MAX 8, Boeing Kehilangan Pesanan Lagi

Buntut 737 MAX 8, Boeing Kehilangan Pesanan Lagi
Foto dokumentasi pada 25 Agustus 2017 memperlihatkan karyawan Saudi dari perusahaan penerbangan Flyadeal baru berswafoto saat upacara peluncuran yang diadakan di bandara King Abdulaziz di kota pantai Jeddah, Arab Saudi. ( Foto: AFP / AMER HILABI )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 9 Juli 2019 | 09:39 WIB

Chicago, Beritasatu.com- Flyadeal, maskapai penerbangan Arab Saudi berbiaya rendah, telah membatalkan pesanan untuk 30 unit pesawat Boeing 737 MAX. Seperti dilaporkan BBC, Minggu (7/7), keputusan itu menyusul jatuhnya dua pesawat jet 737 MAX, yang pertama di Indonesia pada Oktober diikuti oleh satu di Ethiopia pada Maret, yang menewaskan 346 orang.

Sejak itu, pesawat jet 737 MAX telah ditangguhkan dan Boeing telah mengerjakan perbaikan yang akan memuaskan regulator.

Boeing menyatakan bahwa Flyadeal telah memutuskan untuk tidak melanjutkan pesanan sementara karena "persyaratan jadwal".

Kesepakatan itu, yang mencakup opsi tambahan untuk membeli 20 unit lagi pesawat 737 MAX, bernilai US$ 5,9 miliar sesuai harga jual, tetapi maskapai akan ditawari diskon pada label harga itu.

Menghindari sitgma buruk 737 MAX,  Flyadeal, yang dioperasikan oleh Saudi Arabian Airlines milik negara, akhirnya akan mengoperasikan armada pesawat Airbus A320.

Jatuhnya ET302 penerbangan Ethiopian Airlines pada Maret adalah kecelakaan fatal kedua yang melibatkan 737 Max dalam waktu lima bulan.

Satu pesawat yang hampir identik, yang dimiliki oleh maskapai Lion Air Indonesia, jatuh di laut lepas Jakarta pada Oktober 2018. Investigator kecelakaan memusatkan upaya mereka pada sistem kontrol pesawat dan Boeing telah bekerja dengan regulator untuk meluncurkan peningkatan perangkat lunak.

Sejauh ini, tidak ada tanggal kapan pesawat 737 MAX akan diizinkan untuk terbang lagi.

Pekan lalu, Boeing mengumumkan bahwa perusahaan akan memberikan US$ 100 juta untuk membantu keluarga yang terkena dampak dari dua kecelakaan itu.

Pembayaran, yang berlangsung selama beberapa tahun, tidak akan membatalkan tuntutan hukum yang diajukan setelah kecelakaan yang menewaskan 346 orang.



Sumber: Suara Pembaruan