Akibat Larangan Terbang 737 MAX 8, Boeing Merugi Rp 68 Triliun

Akibat Larangan Terbang 737 MAX 8, Boeing Merugi Rp 68 Triliun
Pesawat Boeing 737 MAX diparkir di lapangan parkir karyawan dekat Lapangan Boeing, Seattle, AS. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 19 Juli 2019 | 16:27 WIB

Chicago, Beritasatu.com- Boeing menderita kerugian US$ 4,9 miliar, atau sekitar Rp 68 triliun. Pasalnya, Boeing harus menggulangi biaya akibat larangan terbang pesawat 737 MAX setelah dua kecelakaan mematikan.

Seperti dilaporkan BBC, Jumat (19/7), sebagian besar dari uang Rp 68 triliun itu digunakan untuk memberikan kompensasi kepada pelanggan Boeing atas gangguan jadwal dan keterlambatan pengiriman pesawat.

"Kami mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengelola likuiditas kami dan meningkatkan fleksibilitas neraca kami sebaik mungkin saat kami sedang mengatasi tantangan ini," kata Direktur Keuangan Boeing, Greg Smith.

Diperkirakan, larangan terbang ini akan menyedot laba yang diperoleh produsen pesawat terbesar ini dalam laporan keuangan yang diumumkan pekan depan. Hingga kini, belum diketahui kapan 737 MAX akan diizinkan kembali ke udara.

Dalam sebuah pernyataan, Boeing juga mengatakan "perkiraan terbaik saat ini" adalah bahwa 737 MAX akan kembali terbang dalam tiga bulan terakhir tahun ini.

Kecelakaan pesawat di Indonesia pada Oktober tahun lalu, yang disusul kecelakaan lainnya di Ethiopia pada Maret, secara keseluruhan menewaskan 346 orang.

Dua insiden ini membuat 737 MAX dilarang terbang dan Boeing harus menghadapi salah satu krisis terburuknya.

Para investigator kecelakaan memusatkan upaya mereka pada sistem kontrol pesawat dan Boeing telah bekerja sama dengan regulator untuk memutakhirkan perangkat lunaknya.

Pabrikan pesawat yang juga menghadapi pengawasan ketat atas izin pengaturan pesawat layak terbang, sudah memangkas jumlah produksi bulanan dari 53 pesawat menjadi 42 pesawat karena banyak maskapai yang menunda pembelian.



Sumber: Suara Pembaruan