The Fed Siap Buyback Jika Tiongkok Lepas Obligasi AS

The Fed Siap Buyback Jika Tiongkok Lepas Obligasi AS
Presiden AS Donald Trump dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He. China dan AS sepakat untuk meninggalkan perang dagang dan mundur dari tarif yang terancam. ( Foto: TWITTER / REALDONALDTRUMP )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 8 Agustus 2019 | 15:31 WIB

Washington, Beritasatu.com - Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) dilaporkan siap melakukan pembelian kembali (buyback), jika Tiongkok melepas surat utang (obligasi) Amerika Serikat (AS). 

Sejumlah pengamat menilai ancaman senjata pamungkas Tiongkok dengan melepas obligasi AS yang nilainya mencapai US$ 1,1 triliun atau setara Rp 14.202 triliun untuk menghadapi perang dagang, sudah diantisipasi AS. 

Diungkapkan, dalam laporan kepada Kongres sejak 2012, Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa The Fed "sepenuhnya mampu" membeli Obligasi AS yang akan dilepaskan Tiongkok ke pasar untuk mengendalikan konsekuensi ekonomi.

Tak hanya itu, The Fed bahkan meyakini bahwa Tiongkok tidak akan mudah melepas obligasi AS karena menjanjikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan obligasi yang ditawarkan negara lain.

AS tetap menjadi tujuan utama pasar obligasi Tiongkok, meski Tiongkok memiliki beberapa tempat alternatif untuk memarkir cadangan devisanya yang US$ 3,1 triliun.

Selain obligasi AS, Tiongkok juga tertarik dengan obligasi Jerman dan Jepang, tetapi kedua obligasi dari negara tersebut tidak menawarkan imbal hasil terbaik.

Namun imbal hasil 1,63% pada utang pemerintah AS 10-tahun, jauh lebih baik daripada pengembalian negatif 0,59% pada obligasi Jerman yang setara, yang mencapai rekor terendah pada Rabu (7/8).

Sejumlah pengamat mengatakan, sejauh ini Tiongkok mengantisipasi ancaman kenaikan tarif impor barang terbaru sebesar 25% yang akan diberlakukan AS pada 1 September 2019, dengan melemahkan mata uang yuan, sudah tepat. 

"Ada kemungkinan, Tiongkok akan melemahkan yuan di atas 7,5 terhadap dolar AS, jika Presiden Donald Trump, menaikkan tarif hingga 25% terhadap barang Tiongkok," demikikan analisa Bank of America Merrill Lynch.

Mata uang Tiongkok telah mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam beberapa hari terakhir setelah Beijing membiarkan yuan melemah melewati level psikologis penting 7 per dolar untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan global.

Depresiasi yuan terjadi setelah Trump mengancam akan menampar tarif 10% pada US$ 300 miliar barang-barang Tiongkok mulai 1 September 2019. Jika itu terjadi, nilai tukar dolar AS-Tiongkok akan menyentuh 7,3 poin pada akhir 2019, lebih lemah dari perkiraan sebelumnya 6,63 poin.

Banyak analis mengatakan mereka memperkirakan Trump akan menaikkan tarif pada semua barang Cina hingga 25% setelah eskalasi baru-baru ini dalam pertarungan AS-China. Tingginya tingkat tarif seperti itu akan melukai sentimen lebih lanjut dan Federal Reserve AS kemungkinan akan melangkah untuk membendung beberapa hal negatif.



Sumber: CNN/CNBC/Suara Pembaruan