Antisipasi Penembakan Massal, Penjualan Ransel Antipeluru Meningkat 300%

Antisipasi Penembakan Massal, Penjualan Ransel Antipeluru Meningkat 300%
Penjualan ransel antipeluru di Amerika Serikat (AS) dilaporkan meningkat hingga 300% pascapenembakkan massal. ( Foto: todayshow / Dokumentasi )
Jeanny Aipassa / WIR Rabu, 14 Agustus 2019 | 13:54 WIB

New York, Beritasatu.com- Penjualan ransel antipeluru di Amerika Serikat (AS) dilaporkan meningkat hingga 300% pascapenembakkan massal yang terjadi di Dayton, Ohio, dan El Paso, Texas, beberapa waktu lalu.

Sejumlah produsen ransel antipeluru melaporkan telah mengalami peningkatan penjualan yang signifikan, pascatragedi penembakan massal di Ohio dan Texas yang menewaskan 29 orang dan melukai puluhan lainnya.

Tuffypacks, satu perusahaan yang menjual ransel yang dilengkapi dengan pelindung balistik, menyatakan telah mengalami peningkatan penjualan hampir 300% pascapenembakkan massal di Ohio dan Texas. Fenomena tersebut selalu terjadi dalam beberapa hari atau minggu pascaperistiwa penembakkan di beberapa negara bagian AS.

"Kami selalu melihat lonjakan penjualan dalam beberapa hari atau minggu setelah penembakan, dan penjualan kami meningkat hampir 300%," kata CEO Tuffypacks, Steve Naremore, seperti dikutip CNN, Selasa (13/8).

Tuffypacks menjual perisai ringan dan dapat dilepas yang dimasukkan ke dalam ransel, mulai dari US$ 129 atau sekitar Rp 1,84 juta. Tuffypacks menyebut perisai lima kali lebih kuat dari baja. Sementara ransel antipeluru Tuffypack yang memiliki 24 lapisan bahan anti-balistik, dijual seharga US$ 189 atau Rp 2,7 juta.

Bullet Blocker, yang juga merupkan produsen ransel antipeluru, melaporkan telah mengalami peningkatan penjualan sebesar 200 persen sejak penembakan di Ohio dan Texas, pada 3 dan 4 Agustus 2019. Bullet Blocker adalah perusahaan ransel antipeluru yang didirikan Joe Curran, setelah dua anaknya tewas dalam pembantaian di Virginia Tech pada 2007, yang menewaskan 33 orang.

Panel antipeluru produksi Bullet Blocker dijual seharga US$ 175 atau Rp 1,48 juta dan ransel antipeluru dijual dengan harga US$ 490 atau sekitar Rp 7 juta. Tapi produk yang memiliki harga mengejutkan adalah tas junior seharga US$ 160 atau sekitar 2,3 juta berukuran khusus yang pas untuk anak-anak prasekolah.



Sumber: Suara Pembaruan