Presiden Brasil: Jangan Perlakukan Amazon seperti Koloni

Presiden Brasil: Jangan Perlakukan Amazon seperti Koloni
Petani Brasil, Helio Lombardo Do Santos terlihat di area yang terbakar di hutan hujan Amazon, dekat Porto Velho, negara bagian Rondonia, Brazil, Senin (26/8/2019). ( Foto: AFP / CARL DE SOUZA )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 27 Agustus 2019 | 18:51 WIB

Sao Paulo, Beritasatu.com- Kelompok negara ekonomi maju G7 menjanjikan sekitar US$ 40 juta (Rp 569,2 miliar) untuk membantu Brasil dalam mengatasi kebakaran di hutan Amazon. Namun, Presiden Brasil Jair Bolsonaro menolak tegas Amazon diperlakukan seperti koloni, menyebut negara-negara kaya telah memperlakukan kawasan itu seperti jajahan.

Bolsonaro mengatakan ide menciptakan aliansi internasional untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon akan memperlakukan Brazil seperti “tanah jajahan atau tidak bertuan”. Upaya itu, ujarnya, seperti serangan kepada kedaulatan negara.

Lebih dari 41.000 kobaran api telah merusak hutan hujan di Brazil dan Bolivia. Hutan Amazon sendiri terbentang di Amerika Selatan, mencakup sebagian besar di Brasil dan sisanya di negara-negara seperti Bolivia, Kolombia, Peru, dan Venezuela.

Banyak yang menduga insiden itu dimulai dengan sengaja. Kerusakan hutan sangat luas, sehingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) Greenpeace menggambarkan beberapa wilayah hampir seperti kuburan.

“Kami tidak bisa menerima bahwa seorang presiden, Macron (Presiden Prancis Emmanuel Macron), melepaskan serangan tidak masuk akal dan serampangan di Amazon, juga tidak menyamarkan niatnya di balik ide 'aliansi' negara-negara. G7 untuk menyelamatkan Amazon, seolah-olah kami adalah koloni atau tanah tidak bertuan,” kata Bolsonaro lewat pesan di akun Twitter, Senin (26/8).

Bolsonaro menambahkan kepala-kepala negara lain bersimpati dengan Brazil. “Meskipun penghormatan kepada kedaulatan setiap negara adalah hal yang paling tidak bisa diharapkan di negara beradab,” ujarnya.

Brasil memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia dengan ribuan spesies satwa liar, mulai dari jaguar sampai monyet dan katak, sedangkan hutannya mampu menyerap emisi karbon. Dengan status Amazon sebagai “paru-paru dunia”, kebakaran hutan di sana telah memicu perhatian dunia.



Sumber: Suara Pembaruan