Perang Dagang AS-Tiongkok, Starbucks dan KFC Khawatir Diboikot

Perang Dagang AS-Tiongkok, Starbucks dan KFC Khawatir Diboikot
Seorang pekerja di satu pabrik mengolah sayuran kering untuk ekspor ke AS, Inggris, Jepang, Korea Selatan dan negara-negara lain, di Zhangye di provinsi Gansu di Tiongkok barat laut, Minggu (25/8/2019). ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Jeanny Aipassa / WIR Rabu, 28 Agustus 2019 | 11:42 WIB

Beijing, Beritasatu.com- Perusahaan ritel terkenal asal Amerika Serikat (AS), antara lain Starbuks dan KFC, khawatir akan diboikot bahkan dipersulit untuk ekspansi di Tiongkok seiring perang dagang yang memanas antarkedua negara raksasa ekonomi itu.

Pekan lalu, Presiden AS, Donald Trump, telah memperingatkan perusahaan AS yang berinvestasi di Tiongkok untuk segera hengkang, jika tidak ingin terkena imbas dari perang dagang.

Trump bahkan sesumbar bahwa AS siap memutuskan hubungan dagang dengan Tiongkok jika diperlukan. "Kita tidak membutuhkan Tiongkok. Dan, terus terang, akan jauh lebih baik tanpa mereka," ujar Trump dalam cuitannya di akun Twitter pribadinya.

Namun cuitan Trump tersebut membuat panik perusahaan-perusahaan AS yang berinvestasi dan beroperasi di Tiongkok. Kalangan industri telah mempertanyakan keputusan itu kepada Gedung Putih, karena mengkhawatirkan nasib pabrik mereka yang dibuka di Tiongkok, berikut pemasarannya.

Pada Selasa (27/8), giliran sejumlah perusahaan ritel asal AS yang menyampaikan kekhawatiran dengan seruan Presiden Trump untuk hengkang dari Tiongkok. Starbuks dan KFC bahkan khawatir akan diboikot di Tiongkok.

"Saya sangat optimis dengan pasar di Tiongkok untuk jangka panjang. Tapi kami khawatir tak lagi dapat mempercepat ekspansi dan membangun toko baru di Tiongkok (karena perang dagang, Red)," kata CEO Starbucks, Kevin Johnson.

Lebih Besar

Hal senada juga disampaikan manajemen KFC dan McDonald's yang mengakui bahwa penjualan mereka di Tiongkok lebih besar daripada penjualan di AS. Bahkan penjualan kedua perusahaan riyel itu di Tiongkok meruoakan yangv
tertinggi secara global.

Direktur senior urusan pemerintahan di Dewan Bisnis AS-Tiongkok, Anna Ashton, mengakui perusahaan-perusahaan AS secara berkala melaporkan keuntungan besar dari pasar Tiongkok.

Dengan populasi kelas menengah Tiongkok yang berpenghasilan tinggi dan jumlahnya lebih besar dari seluruh populasi AS, peluang untuk menghasilkan uang berlimpah bagi perusahaan AS di Tiongkok memang lebih menjanjikan daripada di AS.

"Sebagian besar perusahaan kami secara konsisten melaporkan setiap tahun bahwa pasar Tiongkok menguntungkan mereka. Dan, tidak hanya menguntungkan tetapi lebih menguntungkan daripada operasi mereka secara keseluruhan," kata Ashton.

Menurut dia, perang dagang yang diluncurkan Trump terhadap Tiongkok memang menyasar soal tarif impor produk industri. Tetapi perusahaan lain akan ikut terkena imbas, mengingat Tiongkok dapat melakukan aksi balasan dengan memboikot produk AS termasuk perusahaan ritel asal AS yang beroperasi di Tiongkok.



Sumber: Suara Pembaruan