Brasil Ancam Abaikan Bantuan G7 Kecuali Prancis Tarik Penghinaan

Brasil Ancam Abaikan Bantuan G7 Kecuali Prancis Tarik Penghinaan
Asap membumbung dari kebakaran hutan di Altamira, negara bagian, Brasil, Selasa (27/8/2019). ( Foto: AFP / Joao Laet )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 28 Agustus 2019 | 20:31 WIB

Brasilia, Beritasatu.com- Presiden Brasil Jair Bolsonaro mengancam akan mengabaikan bantuan dana dari kelompok negara G7 untuk memerangi kebakaran hutan Amazon, kecuali Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan permohonan maaf. Bolsonaro menegaskan Macron harus meminta maaf secara pribadi karena menyebutnya “seorang pembohong”.

Dalam pertemuan G7 di Prancis, Macron mengumumkan bahwa tujuh pemimpin ekonomi maju tersebut sepakat untuk memberikan bantuan jutaan dolar kepada Brasil.

Situs televisi dan radio Inggris, BBC, menyebut, bantuan yang akan diberikan sebesar US$ 22 juta (Rp 313,8 miliar), sedangkan kantor berita Inggris, Reuters, dan kantor berita Prancis, AFP, menyebut bantuannya sebesar US$ 20 juta (Rp 285,3 miliar).

Dalam pertemuan G20 di Osaka, Jepang, pada Juni 2019, Macron menyebut Bolsonaro telah berbohong dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Bolsonaro juga dituduh gagal menghormati komitmen iklimnya dan mengejar keanekaragaman hayati.

Macron menambahkan Prancis tidak akan meratifikasi kesepakatan perdagangan besar dengan negara-negara Amerika Selatan kecuali Brasil lebih berusaha menangani kebakaran di Amazon.

“Bapak Macron harus menarik (kata-kata) penghinaan yang dibuatnya kepada saya. Pertama, dia menyebut saya pembohong,” kata Bolsonaro kepada wartawan di ibu kota Brasilia, Selasa (27/8).

Dia juga menuduh Macron mempertanyakan kedaulatan Brasil atas wilayah Amazon. “Untuk berbicara atau menerima sesuatu dari Prancis, apakah itu dengan niat terbaik, dia (Macron) harus menarik kata-kata itu lalu kita bisa bicara,” ujar Bolsonaro.

Kedua presiden itu memiliki pandangan politik sangat berbeda karena Bolsonaro berasal dari kubu paling kanan di Brasil, sedangkan Macron terpilih lewat putaran kedua melawan kelompok kanan jauh di Prancis.



Sumber: Suara Pembaruan