Brasil:Negara-negara Amerika Latin Akan Putuskan Masa Depan Amazon

Brasil:Negara-negara Amerika Latin Akan Putuskan Masa Depan Amazon
Presiden Bolivia Evo Morales menyemprotkan air ke kobaran api di kawasan Santa Rosa, dekat Robore di Bolivia timur, selatan lembah Amazon, pada Rabu (28/8/2019). ( Foto: AFP / Kementerian Komunikasi Bolivia )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 29 Agustus 2019 | 19:44 WIB

Porto Velho, Beritasatu.com- Presiden Brasil Jair Bolsonaro menyatakan negara-negara Amazon di Amerika Latin akan bertemu pada September nanti untuk membahas perlindungan dan pengembangan kawasan hutan hujan tersebut, yang kini sedang dilanda kebakaran besar.

Bolsonaro juga semakin meningkatkan perselisihan pribadinya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dituduhnya mencitrakan diri sebagai “satu dan satu-satunya orang” yang peduli kepada lingkungan.

“Para pemimpin dari seluruh negara Amazon kecuali Venezuela akan betemu pada 6 September dalam rangka menghasilkan strategi terpadu kita sendiri untuk melestarikan lingkungan, juga eksplorasi berkelanjutan di kawasan kita,” kata Bolsonaro setelah pertemuan dengan Presiden Chile Sebastian Pinera di ibu kota Brasilia, Rabu (28/8).

Konferensi dari negara-negara yang menaungi Amazon itu akan digelar di Kolombia. Mayoritas hutan Amazon, yaitu 60 persen hutan hujan, berada di Brazil. Sisanya berada di Peru, Kolombia, dan sejumlah kecil di Venezuela, Ekuador, Bolivia, Guyana, Suriname, dan Guyana Prancis (kawasan luar negeri Prancis). Amazon mewakili lebih dari setengah hutan hujan yang tersisa di planet bumi.

Sementara itu, Presiden Cile, Pinera, mengatakan negara-negara Amerika Latin dengan hutan hujan Amazon, mempunyai kedaulatan atas Amazon yang perlu selalu diakui.

Di pihak lain, seorang konservasionis kawasan mengatakan skenario ideal adalah negara-negara Amazon setuju untuk melestarikan kawasan itu dan menerima dukungan internasional yang kuat untuk melakukannya.

“Kedaulatan jelas adalah masalah mendasar di sini,” kata Direktur Kawasan untuk Amerika Latin dan Karibia dari kelompok konservasi World Wild Fund (WWF), Roberto Troya.

Namun, menurutnya, masalah itu bisa berdampak negatif jika dipakai sebagai tameng untuk mengisolasi dan mengubah realitas dari apa yang terjadi di lapangan.



Sumber: Suara Pembaruan