Kumpulkan Data Pengguna Anak, YouTube Didenda Rp 2,4 Triliun

Kumpulkan Data Pengguna Anak, YouTube Didenda Rp 2,4 Triliun
Ilustrasi YouTube. ( Foto: kfgo / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 6 September 2019 | 07:53 WIB

Washington, Beritasatu.com- Google sepakat Rabu (4/9) untuk membayar denda senilai US$ 170 juta (sekitar Rp2,4 triliun). Google menerima tuduhan bahwa perusahaan melacak dan menargetkan anak-anak pada layanan video YouTube-nya secara ilegal.

“Penyelesaian denda dengan Komisi Perdagangan Federal (FTC) dan jaksa agung negara bagian New York adalah jumlah terbesar dalam kasus yang melibatkan Undang-Undang Perlindungan Privasi Daring Anak-anak, dari undang-undang federal tahun 1998,” kata para pejabat.

Menurut pejabat, YouTube melanggar undang-undang yang mengharuskan situs laman yang diarahkan anak-anak. Layanan daring itu k mendapatkan izin orang tua sebelum mengumpulkan informasi pribadi dari anak-anak di bawah 13 yang dapat digunakan untuk iklan.

Perjanjian tersebut menyelesaikan tanggung jawab Google atas video yang ditujukan untuk anak-anak walaupun diproduksi oleh orang lain untuk platform berbagi video.

Para pengkritik raksasa internet itu mengatakan YouTube memasarkan dirinya sebagai tujuan untuk anak-anak dan diuntungkan secara finansial dengan menjual iklan kepada pembuat mainan dan pihak lainnya.

Ketua FTC Joe Simons mengatakan penyelesaian "mencegah YouTube dan Google menutup mata terhadap keberadaan konten yang diarahkan anak-anak" pada platformnya.

Simons mengatakan penyelesaian membuat Google bertanggung jawab atas pelanggaran oleh pembuat konten pihak ketiga, melampaui hukum federal yang mengharuskan platform untuk memiliki pengetahuan bahwa video diarahkan pada anak-anak.

"Tidak ada perusahaan lain di Amerika yang tunduk pada persyaratan ini," katanya.

Jaksa Agung New York, Letitia James mengatakan kesepakatan itu menyerukan "reformasi besar" terhadap praktik bisnis YouTube selain denda.

“Google dan YouTube secara sadar dan ilegal memantau, melacak, dan menayangkan iklan yang ditargetkan untuk anak-anak hanya untuk menjaga agar dolar tetap masuk,” kata James.

YouTube menguraikan bagaimana denda itu akan mengubah cara perusahaan menangani konten anak-anak di bawah aturan.

"Kami akan memperlakukan data dari siapa pun yang menonton konten anak-anak di YouTube berasal dari seorang anak, terlepas dari usia pengguna," kata kepala YouTube Susan Wojcicki.



Sumber: Suara Pembaruan