Otoritas Bahama Koreksi Jumlah Korban Hilang Badai Dorian

Otoritas Bahama Koreksi Jumlah Korban Hilang Badai Dorian
Polisi Bahama dan anggota tim penanggulangan bencana memindahkan seorang korban di Pelabuhan Marsh, Bahama, Selasa (10/9/2019), satu minggu setelah Badai Dorian. ( Foto: AFP / ANDREW CABALLERO-REYNOLDS )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 13 September 2019 | 07:11 WIB

Nassau, Beritasatu.com- Badan Manajemen Darurat Nasional (Nema) Bahama mengoreksi jumlah korban hilang akibat Badai Dorian pada Kamis (12/9). Jumlah korban turun dari 2.500 orang yang terdaftar hilang awal minggu ini.

Seperti dilaporkan BBC, Nema menyatakan penurunan jumlah terjadi setelah pemeriksaan silang nama-nama yang hilang dengan orang-orang yang berada di tempat penampungan.

Topan Dorian menghantam Bahama awal bulan ini menewaskan sedikitnya 50 orang. Jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat ketika operasi pembersihan terus berlanjut.

Saat pidato Rabu (11/9), Perdana Menteri Hubert Minnis mengatakan pemerintah bersikap transparan dan akan "memberikan informasi yang tepat waktu mengenai hilangnya nyawa sebagaimana tersedia".

Komisaris polisi Anthony Ferguson mengatakan bahwa pencarian korban adalah proses yang lambat.

"Kami harus memeriksa semua puing-puing itu, luangkan waktu dan mencari. Butuh waktu lama sebelum Anda benar-benar bisa mengatakannya," katanya.

Namun, pejabat Bahama sebelumnya mengakui bahwa angka kematian terakhir bisa jadi "mengejutkan".

Para pejabat pemerintah dan bantuan mengatakan sekitar 5.000 orang telah dievakuasi dari dua kelompok pulau yang paling terpukul. Daerah yang luas hancur di Abacos dan di Grand Bahama.

Sekitar 6.000 hingga 7.000 orang masih bertahan di lokasi, menurut satu laporan oleh Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Ratusan orang ditampung di tempat penampungan sementara di ibu kota Bahama, Nassau.

Pekerja darurat berencana untuk membangun dua kota tenda di sekitar Pelabuhan Marsh di Pulau Great Abaco. Kota ini hancur oleh badai Dorian, yang meratakan bangunan-bangunan kumuh yang dikenal sebagai Mudd dan Pigeon Peas.

Beberapa warga mengeluh bahwa bantuan terlalu lambat untuk tiba. Tetapi pemerintah Bahama telah membela operasi penanggulangan yang dilakukan dan membantah menutup-nutupi jumlah kematian sebenarnya.



Sumber: Suara Pembaruan