Peringatan 11 September, Trump: AS Jadi Penentu Melawan Terorisme

Peringatan 11 September, Trump: AS Jadi Penentu Melawan Terorisme
Mantan presiden AS George W. Bush dan mantan menteri pertahanan Donald Rumsfeld (kanan) mengambil bagian dalam upacara peletakan karangan bunga untuk memperingati tragedi 9/11 di Pentagon Memorial di Washington, DC, AS, Rabu (11/9/2019). ( Foto: AFP / MANDEL NGAN )
Jeanny Aipassa / WIR Jumat, 13 September 2019 | 07:25 WIB

Washington, Beritasatu.com- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyebut negaranya menjadi kekuatan dan penentu perang melawan terorisme di dunia, saat pidato mengenang 18 tahun tragedi 11 September, di Pentagon.

Berbeda dengan gaya bicaranya yang kerap berapi-api, Trump menyampaikan pidato dengan nada suara rendah dan penuh simpati di hadapan anggota militer dan keluarga korban, di markas Pentagon, Rabu (11/9).

Membuka pidatonya, Trump mengatakan bahwa semua yang hadir dalam peringatan tersebut, tidak akan pernah dapat menghapus kesedihan dan hari tergelap dalam sejarah AS.

“Tapi kita hadir di sini untuk menawarkan apa yang kita punya, kesetiaaan, pengabdian dan janji abadi bahwa orang-orang yang kalia cintai dan telah menjadi korban dari kekejaman ini tidak akan pernah dilupakan,” kata Trump.

Trump mengungkapkan, 18 tahun lalu, teroris menyerang dan merusak pusat bisnis AS, yakni menara kembar World Trade Center (WTC), yang terbakar dan runtuh setelah ditabrak pesawat yang dibajak oleh teroris Al-Qaeda. Sekitar 3.000 orang tewas dalam serangan itu.

Meski demikian, Trump mengatakan bahwa musuh yang menyerang kemudian menyadari bahwa serangan itu tidak merusak rakyat Amerika. “Kita tumbuh semakin kuat, dan menjadi penentu dari perang melawan teroris,” ujarnya.

Trump juga mengatakan bahwa militer AS tidak akan pernah membiarkan teroris kembali menyerang negara adi kuasa itu.

“Jika karena alasan apapun mereka kembali ke negara kita, maka kita akan pergi kemanapun mereka dan menggunakan kekuatan yang belum pernah digunakan AS sebelumnya,” kata Trump.



Sumber: Suara Pembaruan