AS Bakal Delisting Perusahaan-perusahaan Tiongkok di Wall Street?

AS Bakal Delisting Perusahaan-perusahaan Tiongkok di Wall Street?
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. ( Foto: AFP / Spencer Platt )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Minggu, 29 September 2019 | 15:16 WIB

Washington, Beritasatu.com - Pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan untuk membatasi investasi AS di Tiongkok, termasuk semua investasi keuangan di perusahaan-perusahaan Tiongkok. Demikian menurut sumber CNBC, Jumat (27/9/2019).

Perang Dagang, Berawal dari Ambisi Bernama Trump

Sumber tersebut juga mengatakan pembahasan ini masih di tahap awal dan belum ada keputusan apapun, termasuk kapan pembatasan tersebut akan diimplementasikan. Menurut sumber, pembatasan investasi keuangan ditujukan untuk melindungi investor AS dari risiko yang diakibatkan lemahnya pengawasan peraturan (lack of regulatory supervision).

AS bisa menggunakan pembatasan ini untuk mempengaruhi negosiasi perdagangan dengan Tiongkok di Washington pada 10 Oktober nanti. Kedua negara terlibat dalam perang dagang, di mana Tiongkok dan AS saling menaikkan tarif untuk produk impor senilai ratusan miliar dolar.

Trump Akan Menunda Kenaikan Tarif Impor

Bloomberg juga melaporkan hal serupa. Menurut Bloomberg, Pemerintahan Donald Trump ingin membatasi masuknya portfolio modal investor AS ke pasar Tiongkok, termasuk men-delisting perusahaan-perusahaan Tiongkok dari Bursa AS dan melarang dana pensiun AS melakukan investasi di Tiongkok.

Saham Alibaba terkoreksi lebih dari 5 persen setelah kabar ini mencuat. Baidu terkoreksi 3,6 persen dan JD.com anjlok 6 persen. Saham-saham ini diperdagangkan di Nasdaq.

Bloomberg mengatakan bahwa Trump sudah merestui diskusi terkait pembatasan investasi. Gedung Putih belum berkomentar atas isu yang beredar ini.

Kementerian Keuangan AS melalui juru bicaranya, Monica Crowley, mengatakan pada hari Sabtu (28/9/2019) bahwa sejauh ini tidak ada rencana memblokir perusahaan Tiongkok dari perdagangan di pasar modal AS.

Akibat Perang Dagang, Banyak Perusahaan Hengkang dari Tiongkok



Sumber: Bloomberg, CNBC