AS Setujui Penjualan Senjata Antitank ke Ukraina

AS Setujui Penjualan Senjata Antitank ke Ukraina
Tentara Infanteri Angkatan Darat AS menembakkan FGM-148 Javelin saat latihan gabungan senjata langsung di Yordania, 27 Agustus 2019. ( Foto: abcnews / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 5 Oktober 2019 | 12:06 WIB

Washington, Beritasatu.com- Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menyetujui penjualan senjata antitank Javelin yang mematikan senilai US$ 39 juta (sekitar Rp 553,8 miliar) ke Ukraina. Hal itu dikonfirmasi dua pejabat AS dan sumber lain yang mengetahui rencana tersebut.

Seperti dilaporkan Reuters, Kamis (3/10), Departemen Pertahanan AS menyatakan Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui penjualan 150 rudal Rayheon Co Javelin dan peralatan terkait bernilai hingga US$ 39,2 juta ke Ukraina.

Penjualan senjata AS ke Ukraina terlibat dalam kontroversi mengenai transaksi Presiden Donald Trump dengan Ukraina. Hal itu muncul setelah Gedung Putih memerintahkan penundaan hampir US$ 400 juta (Rp 5,68 triliun) bantuan militer ke Ukraina. Sementara presiden baru Ukraina justru ingin meningkatkan penjualan senjata dengan Trump pada panggilan telepon 25 Juli yang kontroversial.

Paket penjualan senjata baru ini akan mencakup senjata anti-tank Javelin. Seorang pejabat AS mengatakan penjualan termasuk 150 rudal dan dua peluncur, yang pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg News.

Departemen Luar Negeri AS menolak untuk mengomentari potensi penjualan senjata, Tetapi , menurut ketiga sumber, Deplu AS akan secara resmi memberi tahu Capitol Hill tentang penjualan tersebut segera dilakukan.

Penjualan itu diperkirakan akan mendapat persetujuan dari Kongres, menurut seorang pejabat dan sumber yang mengetahui rencana tersebut. Pengarahan tentang penjualan senjata ke Ukraina itu bisa terjadi secepat minggu ini.

Penjualan Javelin bukan bagian dari hampir US$ 400 juta bantuan militer yang ditunda seminggu sebelum telepon Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.



Sumber: Suara Pembaruan