Pelaku Pasar Tetap Tersandera Perang Dagang AS-Tiongkok

Pelaku Pasar Tetap Tersandera Perang Dagang AS-Tiongkok
Presiden AS Donald Trump menunjukkan sepucuk surat dari Presiden Tiongkok Xi Jinping ketika mengumumkan dan melakukan kesepakatan awal dengan Tiongkok saat bertemu Utusan Khusus dan Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok Liu Utusan Khusus Liu He dan Wakil Perdana Menteri Rakyat Republik Tiongkok Liu He di Kantor Oval Gedung Putih di Washington, DC, Jumat (11/10/2019). ( Foto: AFP / NICHOLAS KAMM )
Jeanny Aipassa / WIR Senin, 14 Oktober 2019 | 11:40 WIB

New York, Beritasatu.com- Pelaku pasar tetap tersandera perang dagang, meskipun Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah mencapai kesepakatan "tahap 1" untuk membatalkan kenaikan tarif impor antarkeduanegara.

Sejumlah analis menilai, kesepakatan yang dibuat AS-Tiongkok dalam perundingan pejabat tinggi kedua negara di Washington, pekan lalu, hanya bersifat sementara meredam gejolak perekonomian dan ancaman resesi.

Meskipun ada respon positif dengan kenaikan harga saham di berbagai bursa saham dunia akhir pekan lalu, pelaku pasar tak berani berspekulasi untuk portofolio investasi jangka panjang.

Hal itu, antara lain disebabkan pelaku pasar harus "bermain aman" hingga akhir 2019, mengingat kesepakatan perdagangan "tahap 1" antara AS dan Tiongkok hanya menjamin soal penundaan kenaikan tarif barang impor antar kedua negara yang sebelumnya dijadwalkann pada pertengahan Oktoner 2019.

AS telah menyetujui untuk tidak memberlakukan kenaikan tarif impor barang Tiongkok sebesar 30% senilai US$, 250 miliar, pada 15 Oktober 2019. Namun untuk kenaikan tarif yang akan diberlakukan AS terhadap barang impor dari Tiongkok pada 15 Desember 2019, belum dipastikan.

"Pasar pada dasarnya disandera oleh negosiasi perdagangan dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk keluar dari kemerosotannya," kata Kepala Investasi Bryn Mawr Trust, Jeffrey Mills, seperti dikutip CNBC, akhir pekan lalu.

Menurut dia, tak hanya pelaku pasar di bursa, para pelaku bisnis pun tak akan berani mengambil langkah, seperti meningkatkan stok produksi atau pasokan barang, karena negosisasi yang disepakati AS dan Tiongkok saat ini, bisa saja berakhir pada Desember 2015.

Sekalipun AS dan Tiongkok tetap melanjutkan kesepakatan perdagangan "tahap 1" dan AS menunda rencana kenaikan tarif produk Tiongkok pada 15 Desember 2018, Mills menilai, pelaku pasar akan menahan diri untuk melihat komitmen AS-Tiongjok dan kinerja kuartal terakhir 2019.



Sumber: Suara Pembaruan