Perubahan Iklim, 300 Juta Orang Terancam Kenaikan Air Laut

Perubahan Iklim, 300 Juta Orang Terancam Kenaikan Air Laut
Sejumlah warga berolahraga pagi di sepanjang pantai di Mumbai, India. Penelitian Pusat Iklim Amerika Serikat, Rabu (30/10), memperkirakan Mumbai menjadi salah satu kota yang akan tenggelam dalam waktu 30 tahun ke depan, akibat kenaikan air laut. ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 31 Oktober 2019 | 14:59 WIB

New York, Beritasatu.com - Penelitian perubahan iklim menunjukkan 300 juta orang yang tinggal di sepanjang pantai di dunia terancam banjir besar akibat kenaikan air laut, pada 2050. Angka tersebut, naik tiga kali lipat dari perkiraan sebelumnya, bahkan bisa naik lagi dua kali lipat menjadi 630 juta orang terdampak pada 2100.

Data penelitian terbaru itu, disampaikan Pusat Iklim yang berbasis di Amerika Serikat (AS) lewat publikasi di jurnal Nature Communications, pada Selasa (29/10). Organisasi itu mencatat sekitar 110 juta orang menempati kawasan di sekitar pantai yang dilindungi tembok dan tanggul.

Studi itu memperingatkan agar negara-negara mempersiapkan diri dari sekarang untuk merelokasi warganya yang menempati kawasan sekitar pantai secara bertahap, untuk mengurangi dampak bencana kenaikan air laut.

“Meskipun temuan ini mengejutkan, tapi ada hikmahnya. Mereka memberikan kita pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan demi melindungi jutaan, dan menghindari pergolakan ekonomi dan politik yang dapat ditimbulkan dari bencana iklim pada skala ini,” kata Direktur Komunikasi Pusat Iklim, Peter Girard.

Disebutkan, lebih dari 70% populasi dunia yang tinggal di lahan beresiko berada di delapan negara Asia, yaitu Bangladesh, Tiongkok, India, Indonesia, Jepang, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Berdasarkan alat penyaring resiko pantai di situs Pusat Iklim, kota-kota seperti Bangkok, Jakarta, dan Ho Chi Minh berada dalam ancaman khusus dengan situasi akan mengalami di bawah tingkat banjir tahunan pada 2050.

Untuk kawasan Asia, kota-kota pantai seperti Mumbai di India, Shanghai di Tiongkok, dan Bangkok di Thailand dapat tenggelam dalam jangka waktu 30 tahun ke depan. Sekitar 237 juta orang diperkirakan terancam oleh kenaikan air laut tinggal di Asia.

Mumbai, salah satu kota terbesar di dunia, beresiko terendam seluruhnya. Sedangkan, Shanghai, dengan populasi 24 juta, menghadapi nasib serupa tiga dekade dari sekarang. Wilayah selatan Vietnam, dengan populasi lebih dari 20 juta orang, mungkin sepenuhnya akan banjir.

Sedangkan untuk kawasan Timur Tengah, sebagian besar kota Alexandria di Mesir dan kota terbesar di Irak, Basra, akan terendam pada 2050.

“Penilaian ini menunjukkan potensi perubahan iklim untuk membentuk kembali kota-kota, perekonomian, garis pantai, dan seluruh wilayah global dalam kehidupan kita,” kata penulis utama penelitian ini, Scott Kulp.

Dina Ionesco dari Organisasi untuk Migrasi (IOM) mengatakan skala pergerakan dunia akibat situasi itu tidak akan tertandingi dalam sejarah. “Kami telah berusaha membunyikan bel alarm, kita tahu bahwa itu akan datang,” ujar Dina Ionesco.



Sumber: Suara Pembaruan