Dalam Sehari, Trump "Ditampar" Dua Skandal

Dalam Sehari, Trump
Presiden AS Donald Trump ( Foto: AFP / ANDREW CABALLERO-REYNOLDS )
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 5 November 2019 | 15:18 WIB

Washington, Beritasatu.com - Hanya dalam sehari, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, harus menerima kenyataan pahit mendapat "tamparan" dari dua skandal besar yang dihadapinya.

Pada Senin (4/11/2019), Donald Trump diguncang oleh keputusan pengadilan terkait kasus pajak dan pengakuan mantan diplomat Departemen Luar Negeri (Deplu) AS terkait proses penyelidikan pemakzulan terhadapnya yang sedang diproses DPR AS.

Pengadilan New York melalui putusan yang dikeluarkan Senin (4/11/2019), memerintahkan Mazars LLP, kantor akuntan lama Donald Trump untuk menyerahkan pengembalian pajak (tax return) selama delapan tahun kepada kejaksaan di New York.

Pengembalian pajak adalah formulir yang diajukan kepada otoritas pajak di AS untuk melaporkan pendapatan, pengeluaran, dan informasi pajak terkait lainnya. Pengembalian pajak memungkinkan para wajib pajak untuk menghitung kewajiban pajak mereka, menjadwalkan pembayaran pajak, atau meminta pengembalian untuk kelebihan pembayaran pajak.

Perintah untuk kantor akuntan Trump, Mazars LLP, dikeluarkan setelah keputusan pengadilan dengan suara bulat oleh tiga panel hakim di New York. Upaya itu menjadi tantangan bagi Trump yang menjaga kerahasiaan keuangannya.

Hanya berselang beberapa jam setelah putusan pengadilan tersebut, Donald Trump harus kembali menerima kabar buruk terkait pernyataan mantan duta besar AS untuk Ukraina, Marie Yovanovitch, yang semakin memojokannya dalam penyelidikan pemakzulan oleh DPR.

Laporan yang mengutip pernyataan Marie Yovanovitch saat pemeriksaan di DPR pada 11 Oktober 2019, mengungkapkan pengakuan Marie Yovanovitch bahwa Presiden Donald Trump telah menyepelekan posisi dan tugasnya sebagai diplomat resmi yang ditunjuk AS untuk Ukraina.

Marie Yovanovitch mengaku sangat terkejut karena mendapat informasi bahwa Presiden Donald Trump menyampaikan kepada pemerintah Ukraina bahwa perwakilan diplomatik resmi AS untuk Ukraina adalah pengacara pribadi Donald Trump, Rudy Giuliani.

"Saya sangat prihatin dan merasa terancam dengan kata-kata presiden (Donald Trump, Red)," kata Marie Yovanovitch dalam laporan yang dikutip CNN, Senin (4/11/2019).

Pernyataan yang disampaikan Donald Trump, terkait dengan permintaannya kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, untuk menyelidiki Hunter Biden, putra mantan wakil presiden Joe Biden, yang menjadi direksi pada salah satu perusahaan gas Ukraina. Menurut Marie Yovanovitch, pernyataan Donald Trump tersebut telah memotong fungsi dan tugas diplomat AS di Ukraina.

Pejabat tinggi Departemen Luar Negeri AS lainnya, Michael McKinley, bersaksi bahwa ia mengundurkan diri pascaskandal tersebut karena keberatan Departemen Luar Negeri AS digunakan untuk kepentingan politik Donald Trump.

"Dalam 37 tahun melayani di Departemen Luar Negeri dan di berbagai belahan dunia, dan menangani banyak diplomasi kontroversial, saya belum pernah melihat hal seperti itu," kata Michael McKinley, dalam transkrip pernyataaannya yang juga dirilis Senin (4/11/2019).

Michael McKinley mengungkapkan, atas skandal tersebut, dia telah meminta kepada Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo, untuk memberikan pernyataan dukungan kepada Marie Yovanovitch. Namun Mike Pompeo membantah dengan mengatakan bahwa Michael McKinley tidak pernah mengangkat masalah ini.

Sejumlah pengamat menilai, skandal pajak dan penyelidikan pemakzulan akan menjadi tantangan terberat Donald Trump, untuk meyakinkan rakyat AS, terkait pencalonannya kembali di Pemilu AS 2020.



Sumber: Suara Pembaruan