Fotografi Lawas Ungkap Hubungan Dasar AS-Indonesia

Fotografi Lawas Ungkap Hubungan Dasar AS-Indonesia
Pameran foto jurnalistik "Membidik Hubungan Bilateral Amerika Serikat-Indonesia Lewat Lensa Jurnalistik 1949-2019" ini diselenggarakan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Jakarta Pusat, yang berlangsung hingga 10 November 2019. Foto ini mengisahkan selang tiga bulan setelah terpilih, Presiden John F Kennedy mengundang Presiden Soekarno ke Amerika Serikat sebagai kunjungan informal untuk membahas sejumlah topik termasuk keamanan bersama di wilayah Asia Pasifik. ( Foto: ANTARA / repro )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 7 November 2019 | 22:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Foto-foto lawas bisa mewakili cerita perjalanan hubungan antarnegara dan bisa menjadi media komunikasi bagi khalayak. Dalam pameran fotografi Amerika Serikat (AS)-Indonesia, publik juga dapat melihat akar perjalanan AS yang ikut mendukung diplomasi kemerdekaan Indonesia.

“Di pameran ini, ada foto-foto upaya Belanda kembali setelah kemerdekaan Indonesia. Sampai akhirnya PBB turun tangan dan membentuk komisi khusus yang beranggotakan negara AS, Belgia, dan Australia. Bahkan saat agresi kedua Belanda, Amerika juga sudah terlibat dalam sejumlah perundingan,” papar Kepala Divisi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar Motuloh saat diskusi “Bedah Potret 70 Tahun Hubungan AS-Indonesia” di Perpustakaan Nasional Jakarta, Rabu (6/11).

Diskusi yang dipandu Jurnalis kantor berita Agence France-Press Adek Berry ini menyertai pameran berjudul "Pameran Foto Jurnalistik: Membidik Hubungan Bilateral Amerika Serikat-Indonesia Lewat Lensa Jurnalistik 1949-2019" ini diselenggarakan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Jakarta Pusat, yang berlangsung hingga 10 November 2019.

Pameran menampilkan 70 karya foto di antaranya 50 foto karya dari jurnalis foto Antara dan 20 foto lain merupakan arsip Kedubes AS dan Perpusnas RI. Foto-foto yang dipamerkan merupakan karya para jurnalis foto profesional Indonesia yang disandingkan dengan karya tulis para wartawan saat itu.

“Hubungan AS-Indonesia mulai terbentuk setelah Merle Cochran yang akhirnya menjadi dubes AS yang pertama terlibat dalam sejumlah perundingan sehingga publik internasional mendukung Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Bahkan pada masa itu, ada juga kunjungan wartawan-wartawan Amerika ke Bangka tempat Soekarno -Hatta ditahan tahun 1949,” paparnya.

Menurut Oscar, pameran foto ini merupakan pengantar untuk diskusi yang digelar pada Kamis (7/11). Foto-foto yang dipamerkan sudah diseleksi sehingga pengunjung tidak menemukan foto yang menggambarkan hubungan “panas-dingin” AS-Indonesia.

“Tidak semua foto tentang AS-Indonesia bisa ditampilkan, apalagi pameran ini digelar dalam rangka satu hubungan ‘konstruktif ‘ selama 70 tahun. Tentu akan berbeda jika inisiasi pameran berasal dari lembaga pers atau aktivis,” paparnya.

Menurut Oscar, pihak Antara mendapatkan sekitar 1.600 foto, tapi tidak semua bisa dipamerkan. Namun di media lain, foto-foto saat hubungan AS-Indonesia sedang tegang dapat terlihat. Mulai dari aksi demonstrasi di Kedubes AS dan ketimpangan ekonomi politik di luar negeri. Tapi dari foto Presiden Nixon dan Kennedy, orang bisa “melihat” lebih dalam soal kepemimpinan mereka.

“Kami berharap foto-foto ini bisa mengangkat kembali nilai-nilai bersama kita akan pentingnya kemerdekaan pers dan memulai percakapan tentang 70 tahun hubungan diplomatis dan hubungan antar-rakyat ke depannya,” ujar Duta Besar AS untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr., saat pembukaan pameran, Selasa (5/11).

Donovan menambahkan, pameran fotografi ini diharapkan dapat menunjukkan hubungan harmonis antara Indonesia dengan Amerika Serikat yang multifase, bertahan lama, dan berkelanjutan.



Sumber: Suara Pembaruan