Praktik Perdagagan "Curang"

Trump Sebut Uni Eropa Lebih Parah dari Tiongkok

Trump Sebut Uni Eropa Lebih Parah dari Tiongkok
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Ibu Negara, Melania Trump, tiba di Gedung Putih, Washington, setelah melalui perjalanan dari South Lawn, Selasa (12/11). ( Foto: AFP / MANDEL NGAN )
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 13 November 2019 | 15:52 WIB

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyebut Uni Eropa lebih parah dari Tiongkok dalam menerapkan praktik perdagangan yang tidak adil atau "curang".

Menurut Donald Trump, bukan hanya Tiongkok yang mengambil keuntungan besar dari AS melalui praktik perdagangan yang "curang", antara lain melalui penerapan tarif impor yang mahal.

Uni Eropa, lanjut Donald Trump, juga melakukan hal yang sama, bahkan hambatan perdagangan yang diberlakukan Uni Eropa terhadap AS jauh lebih parah dibandingkan Tiongkok.

"Banyak negara membebankan tarif luar biasa tinggi kepada kami atau menciptakan hambatan perdagangan yang mustahil. Dan aku akan jujur, Uni Eropa, sangat, sangat sulit. Hambatan yang mereka terapkan (untuk AS, Red) sangat mengerikan, dalam banyak hal justru lebih buruk daripada Tiongkok," kata Donald Trump, di Washington, Selasa (12/11/2019).

Donald Trump kembali menyerang Tiongkok soal perdagangan dengan menyebut negeri tirai bambu itu bertindak “curang”. Trump bahkan mengindikasikan akan mempertimbangkan kembali rencana untuk menghapus kenaikan tarif.

“Sejak masuknya Tiongkok ke Organisasi Perdagangan Dunia pada 2001, tidak ada negara yang memanipulasi atau memanfaatkan Amerika lebih baik dan lebih banyak daripada Tiongkok. Aku sebenarnya tidak ingin bilang itu 'curang', tapi tidak ada kata yang lebih baik dari itu untuk ditujukan kepada Tiongkok,” kata Donald Trump.

Pernyataan Trump tersebut sangat megejutkan dan menjadi pukulan bagi keyakinan pelaku pasar terkait kesepakatan perdagangan “tahap 1” antara AS dan Tiongkok untuk mengakhiri perang dagang yang telah mengguncang ekonomi global.

Padahal, Trump dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, diharapkan akan menandatangani kesepakatan perdagangan “tahap 1” tersebut, saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (AEPC) pada 16-18 November mendatang.

Sumber Gedung Putih mengungkapkan, Trump kesal karena poin-poin potensial yang diharapkan dapat dicapai dalam perundingan antarpejabat tinggi kedua negara untuk merampungkan kesepakatan perdagangan “tahap 1”, nampaknya belum jelas.

AS telah setuju membatalkan kenaikan tarif terhadap produk Tiongkok yang seharusnya berlaku pada 15 Oktober 2019. Sebagai imbalannya, Tiongkok menjanjikan akan membeli produk pertanian AS dengan nilai fantastis.

Namun Tiongkok juga meminta AS untuk membatalkan rencana kenaikan tarif pada Desember 2019. AS menuntut Tiiongkok untuk lebih terbuka dan tidak melakukan manipulasi atau mencuri kekayaan intelektual perusahaan AS yang berinvestasi di Tiongkok.

Tak hanya menyerang Tiongkok, Trump juga menyalahkan pemerintah AS sebelumnya, yang dianggapnya tak becus menegosiasikan kesepakatan perdagangan, sehingga memungkinkan Tiongkok memanipulasi perjanjian yang merugikan pekerja dan industri AS, terutama di sektor manufaktur.

 



Sumber: Suara Pembaruan