Penyelidikan Pemakzulan, DPR AS Undang Trump Beri Kesaksian

Penyelidikan Pemakzulan, DPR AS Undang Trump Beri Kesaksian
David Holmes (tengah), seorang pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, tiba di Capitol Hill, untuk memberi kesaksian dalam sidang terbuka penyelidikan pemakzulan Presiden Donald Trump, pada 15 November 2019. Holmes diduga menjadi salah satu saksi yang mendengar langsung pembicaraan Trump dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, pada Juli 2019. ( Foto: AFP / Olivier Douliery )
Jeany Aipassa / JAI Senin, 18 November 2019 | 13:40 WIB

Washington, Beritasatu.com - Ketua House of Representrative (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR) Amerika Serikat, Nancy Pelosi, mengundang Presiden Donald Trump, untuk memberi kesaksian dalam penyelidikan pemakzulan terhdapnya.

Menurut Nancy Pelosi, Donald Trump memiliki hak jawab dan diberi kebebasan untuk memberikan keterangan baik secara langsug maupun tertulis kepada Komisi Intelijen yang sedang melakukan penyelidikan pemakzulan terhadapnya.

“Jika dia (Donald Trump, Red) memiliki informasi yang bersifat membebaskan (dari upaya pemakzulan, Red), kita akan melihatnya kemudian untuk membandingkan (dengan keterangan para saksi, Red),” kata Nancy Pelosi, dalam wawancara dengan Stasiun Televisi CBS, seperti dikutip AP, Minggu (17/11/2019).

Senator Partai Demokrat, Chuck Schumer, membenarkan perihal bakal diundangnya Donald Trump untuk memberi kesaksian terkait penyelidikan pemakzulan terhadapnya.

Chuck Schumer mengatakan, kesempatan untuk memberi kesaksian di hadapan Komite Intelijen DPR justru lebih baik daripada Trump berkicau di akun Twitter-nya.

“Kalau Donald Trump tidak setuju dengan apa yang dia dengarkan (keterangan para saksi, Red), dia seharusnya tidak berkicau (lewat Twitter, Red). Dia seharusnya datang kepada Komite Intelijen dan memberi keterangan di bawah sumpah,” ujar Chuck Schumer.

Chuck Schumer juga mempertanyakan informasi mengenai desakan Gedung Putih yang menghalangi para saksi untuk memberi keterangan dan dokumen yang terkait dengan percakapan Presiden Donald Trump dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pada Juli 2019.

“Desakan Gedung Putih untuk menghalangi para saksi justru memunculkan pertanyaan, apa yang dia (Trump, Red) sembunyikan,” ujar Chuck Schumer.

Komite Intelijen di DPR AS telah menjalankan sidag terbuka penyelidikan pemakzulan Presiden Trump, sejak pekan lalu. Pada pemeriksaan di pekan pertama, sejumlah saksi kunci dihadirkan, antara lain mantan Duta Besar AS untuk Ukraina, Marie Yovanovitch, dan David Holmes (tengah), seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS.

Marie Yovanovitch dipecat atas peringtah Trump karena mempertanyakan peran pengacara pribadi Trump, Rudolf Giuliani, terkait permintaan kepada pemerintah Ukraina untuk menyelidiki Hunter Biden, putra dari mantan Wakil Presiden AS, Joe Biden.

Sedangkan David Holmes adalah salah satu saksi yang mendengar langsung pembicaraan Trump dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pada Juli 2019.



Sumber: Suara Pembaruan