PBB: AS Tahan 100.000 Anak Migran

PBB: AS Tahan 100.000 Anak Migran
Anak-anak mengambil bagian dalam protes terhadap kebijakan imigrasi AS di luar kedutaan AS di Mexico City, Meksiko. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 19 November 2019 | 16:20 WIB

Washington, Beritasatu.com-Lebih dari 100.000 anak ditahan di penahanan terkait migrasi di Amerika Serikat (AS). Seperti dilaporkan Al Jazeera, Senin (18/11), studi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), menemukan AS memiliki jumlah anak terbanyak di dunia dalam tahanan yang melanggar hukum internasional.

"Di seluruh dunia, ada lebih dari tujuh juta orang di bawah usia 18 tahun ditahan di penjara dan tahanan polisi, termasuk 330.000 di pusat-pusat penahanan imigrasi," kata pakar independen Manfred Nowak.

Menurut Studi Global PBB tentang Anak-anak yang Tidak Mendapat Kebebasan, anak-anak hanya boleh ditahan sebagai langkah terakhir dan untuk waktu sesingkat mungkin.

"Amerika Serikat adalah salah satu negara dengan jumlah tertinggi - kami masih memiliki lebih dari 100.000 anak dalam penahanan terkait migrasi di [AS]," kata Nowak.

"Tentu saja, memisahkan anak-anak, seperti yang dilakukan oleh administrasi Trump, dari orang tua mereka dan bahkan anak-anak kecil di perbatasan Meksiko-AS benar-benar dilarang oleh Konvensi Hak-hak Anak. Saya akan menyebutnya perlakuan tidak manusiawi untuk kedua orang tua dan anak-anak," tambahnya.

Sejauh ini, tidak ada reaksi langsung dari otoritas AS. Novak mengatakan para pejabat AS belum menjawab kuesioner yang dikirim ke semua negara.

Novak mengatakan AS telah meratifikasi perjanjian internasional utama seperti yang menjamin hak-hak sipil dan politik dan melarang penyiksaan. Tetapi AS merupakan satu-satunya negara yang tidak meratifikasi pakta tentang hak-hak anak.

"Cara mereka memisahkan bayi dari keluarga hanya untuk mencegah migrasi tidak teratur dari Amerika Tengah ke Amerika Serikat merupakan perlakuan tidak manusiawi, dan itu benar-benar dilarang oleh dua perjanjian," kata Nowak, seorang profesor hukum internasional di University of Vienna.

AS menahan rata-rata 60 dari setiap 100.000 anak dalam sistem peradilan atau tahanan terkait imigrasi. Menurut Nowak, jumlah itu merupakan angka tertinggi di dunia, diikuti oleh negara-negara seperti Bolivia, Botswana dan Sri Lanka.

"Meksiko, asal banyak migran Amerika Tengah yang dikembalikan ke perbatasan AS, juga memiliki jumlah yang tinggi. Meksiko menahan 18.000 anak dalam tahanan terkait imigrasi dan 7.000 anak di penjara," katanya.

Menuruut Nowak, tingkat tahanan anak AS jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata lima per 100.000 di Eropa Barat dan 14-15 per 100.000 di Kanada.



Sumber: Suara Pembaruan