Kesepakatan Perdagangan AS-Tiongkok Buntu, Trump Ancam Naikkan Tarif

Kesepakatan Perdagangan AS-Tiongkok Buntu, Trump Ancam Naikkan Tarif
Presiden AS Donald Trump tiba untuk berpidato di Gedung Putih, Washington Dc, AS, pada Rabu (6/11/2019). ( Foto: AFP / Jim WATSON )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 21 November 2019 | 15:15 WIB

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam akan menaikkan tarif impor barang Tiongkok lebih tinggi dari yang telah diumumkan akan diberlakukan pada 15 Desember 2019.

Pernyataan itu, disampaikan Donald Trump sebagai reaksi atas laporan bahwa rincian kesepakatan perdagangan “tahap 1” yang dinegosiasikan kedua pihak menghadapi kebuntuan, karena Tiongkok menolak memenuhi tuntutan AS, antara lain tentang perlindungan hak intelektual.

“Tiongkok harus membuat kesepakatan yang saya sukai. Itu saja (syaratnya, Red). Jika kita tidak mencapai kesepakatan dengan Tiongkok, saya akan menaikan tarif lebih tinggi,” kata Donald Trump, di Washington, Rabu (20/11/2019).

Meskipun Trump mengancam Tiongkok, Menteri Perdagangan AS, Wilbur Ross, dan Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, tetap berharap kesepakatan perdagangan “tahap 1” dengan Tiongkok akan tercapai.

Wilbur Roos mengatakan bahwa Gedung Putih tetap optimistis kedua negara dapat mencapai kesepakatan perdagangan “tahap 1” sesuai hasil pertemuan pejabat tinggi AS-Tiongkok pada Oktober 2019. Hal itu disebabkan negosiator dari kedua negara masih membahas rincian perjanjian.

“Saya pikir, sulit untuk berprasangka sementara itu masih dalam proses. Jika negosiator kami merasa tidak ada harapan, mereka akan berhenti. Jadi jelas kami pikir ada harapan. Kami optimis bahwa kami dapat menyelesaikan sesuatu (kesepakatan, Red),” ujar Wilbur Ross.

Menurut Wilbur Ross, keberhasilan kesepakatan perdagangan “tahap 1” bergantung pada memperbaiki perjanjian perdagangan dengan Tiongkok yang dirasakan merugikan AS.

Beberapa tuntutan AS adalah Tiongkok harus mengubah UU untuk menyelesaikan keluhan AS tentang pencurian kekayaan intelektual AS dan rahasia dagang, transfer teknologi paksa, kebijakan persaingan, akses layanan keuangan dan manipulasi mata uang.

“Pertanyaannya adalah apakah kita bisa masuk ke detail karena itulah satu-satunya cara Anda benar-benar mengetahui apakah Anda memiliki kesepakatan ataukah tidak,” ujar Wilbur Ross.

Ketika ditanya mengenai ancaman Donald Trump untuk meningkatkan kenaikan tarif pada 15 Desember 2019, Ross mengatakan, Tiongkok pasti dapat memahami maksud Donald Trump, karena sesuai dengan tawaran yang diajukan AS untuk merevisi perjanjian perdagangan dengan Tiongkok.

Pernyataan senada juga disampaikan Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin. Menurutnya, kesepakatan perdagangan “tahap 1” antara AS dan Tiongkok masih mungkin tercapai karena Tiongkok tahu risiko dari kenaikan tarif yang diberlakukan AS.

“Saya memiliki segala harapan jika tidak ada kesepakatan, tarif itu akan diberlakukan. Tapi saya berharap kita akan sepakat,” kata Steven Mnuchin.

Seperti diketahui, AS telah menunda kenaikan tarif impor barang Tiongkok pada 15 Oktober 2019, setelah kedua negara setuju membuat kesepakatan perdagangan “tahap 1”. Sebagai imbalannya, Tiongkok berjanji akan membeli produk pertanian AS senilai US$ 50 miliar setiap tahun.

Namun Tiongkok juga menuntut AS mencabut rencana kenaikan tarif impor produk Tiongkok senilai US$ 156 miliar pada 15 Desember 2019. Tapi Trump mengancam akan memberlakukannya bahkan dengan nilai yang lebih tinggi, jika Tiongkok menolak tuntutan AS dalam kesepakatan perdagangan “tahap 1”.



Sumber: Suara Pembaruan