AS Bantah Intervensi Demonstrasi di Iran

AS Bantah Intervensi Demonstrasi di Iran
Demonstran Irak menyaksikan api yang mulai membakar konsulat Iran di Kota Najaf, 27 November 2019. ( Foto: AFP / HAIDAR HAMDANI )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 28 November 2019 | 18:11 WIB

Washington, Beritasatu.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, membantah negaranya melakukan intervensi dalam aksi demonstrasi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Iran.

Menurut Mike Pompeo, Pemerintah AS hanya menyuarakan dukungan untuk rakyat Iran yang memprotes Pemerintah Iran terkait situasi negara yang berada dalam kondisi krisis.

Mike Pompeo balik menuding Pemerintah Iran telah mempraktekan "perilaku memfitnah" dengan menyalahkan AS atas situasi krisis yang dialami negara tersebut, akibat aksi demonstrasi dari masyarakat yang berlangsung sejak pemerintah Iran megumumkan kenaikan harga BBM pada 15 November 2019.

“Perlindungan terakhir dari mereka yang gagal adalah menyalahkan orang lain. Ini tidak ada hubungannya dengan siapa pun di luar Iran yang memicu protes ini. Ini adalah orang-orang Iran sendiri yang berjuang untuk kebebasan, menuntut hak-hak mereka, mengharapkan kapasitas untuk menjaga orang-orang mereka sendiri,” kata Mike Pompeo, di Washington, Rabu (27/11/2019).

Keputusan untuk menaikan harga BBM di Iran sampai tiga kali lipat pada 15 November 2019 dilakukan oleh Dewan Tertinggi Koordinasi Ekonomi Iran, yang merupakan pimpinan dari tiga kekuatan Republik Islam tersebut.

Dewan itu dibangun pada musim semi 2019, atas perintah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk melawan sanksi keras AS terhadap Teheran.

Seperti diketahui, AS telah menjatuhkan sanksi kepada Iran, terkait dengan program nuklir negara itu. AS telah menarik diri dari Perjanjian Nuklir Iran, dan memberlakukan sanksi terhadap Iran, antara lain larangan terhadap negara-negara yang bekerja sama dengan AS untuk membeli minyak dari Iran. 

Sejumlah pejabat Iran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, telah menuding AS menekan Iran, dengan menunggangi demonstrasi menolak kenaikan BBM yang diwarnai dengan kekerasan dan pengrusakan faslitas publik, serta kantor pemerintah dan swasta.

Demonstrasi menolak kenaikan harga BBM di Iran sejak 15 November 2019, telah membuat 731 bank dan 140 kantor pemerintah di Ibukota Teheran dirusak dan dibakar.

Ayatollah Ali Khamenei, mengecam kekerasan yang dilakukan demonstran dan menyebutnya sebagai “konspirasi yang sangat berbahaya”. Ayatollah Ali Khamenei bahkan menegaskan bahwa Pemerintah Iran tidak akan kalah dengan para pelaku kekerasan.

“Aksi seperti itu pernah dikalahkan Iran. Ini adalah konspirasi yang sangat berbahaya, tapi bukan yang terburuk,” kata Ayatollah Ali Khamenei, merujuk pada kerusuhan terburuk anti-pemerintah di Iran pada 2009, yang dipicu aksi demonstrasi melawan kecurangan pemilihan umum.

Selain AS, Iran juga menuding Arab Saudi dan Israel turut melakukan konspirasi dan mengintervensi demonstrasi di Iran untuk menekan mundur pemerintahan saat ini.

Aksi demonstrasi menentang Pemerintah Iran juga berlangsung di Irak. Pada Rabu (27/11/2019), massa bahkan melempar bom molotov untuk membakar kantor Konsulat Iran, di Kota Najaf. 



Sumber: Suara Pembaruan