Soal Pemakzulan, Trump Sebut Tak Lakukan Kejahatan

Soal Pemakzulan, Trump Sebut Tak Lakukan Kejahatan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, didampingi Ibu Negara Melania Trump, menghadiri acara Congressional Ball, di Gedung Putih, Washington, pada 12 Desember 2019. (Foto: AFP / Brendan Smialowski)
Jeany Aipassa / JAI Jumat, 13 Desember 2019 | 17:22 WIB

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut dirinya tidak melakukan kejahatan yang pantas membuatnya dimakzulkan.

"Tidak ada kejahatan yang saya lakukan," kata Donald Trump, dalam cuitan di akun Twitter-nya, Kamis (12/12/2019).

Pernyataan itu, disampaikan Donald Trump, menanggapi proses dakwaan pemakzulan terhadapnya yang telah memasuki tahapan pembahasan pasal dakwaan pemakzulan di Komite Kehakiman House of Representative (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR) AS. 

Komite Kehakiman DPR AS telah menunda pemungutan suara atas dua pasal dakwaan pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump yang diajukan Partai Demokrat. Voting akan dilakukan dalam sidang Komite Kehakiman DPR AS, Jumat (13/12/2019) dan dijadwalkan dibawa dalam sidang DPR AS, pekan depan.

Sebelumnya, Donald Trump juga membuat pernyataan yang meremehkan langkah DPR dengan menyebut dakwaan pemakzulan terhadapanya sebagai tindakan lemah, menyedihkan, konyol dan omog kosong.

“Ini adalah pemakzulan paling ringan dan terlemah. Kalian tahu bahwa negara kita memiliki banyak mekanisme pemakzulan. Semua orang mengatakan bahwa ini adalah pemakzulan, tetapi ini adalah pemakzulan paling ringan dalam sejarah negara kita, ini bukan seperti pemakzulan,” kata Donadl Trump, saat berkampanye di Pennsylvania, Rabu (11/12/2019).

Meski Donald Trump terkesan meremehkan dakwaan pemakzulan DPR, sumber di Gedung Putih menyebutkan Donald Trump telah bersiap untuk menghadapi dakwaan pemakzulan terhadapnya.

Menurut sumber yang menolak disebut identitasnya itu, Donald Trump sebenarnya terkejut bahwa tindakannya meminta bantuan Presiden Ukraina untuk menyelidiki Hunter Biden, berujung pada penyelidikan pemakzulan terhadapnya.

Pada Selasa (10/12/2019), Partai Demokrat telah mengajukan dakwaan pemakzulan terhadap Donald Trump, pada Selasa (19/12). Donald Trump didakwa melanggar dua pasal, yakni menyalahgunakan kekuasaan dengan meminta Presiden Ukraina melakukan penyelidikan terhadap Hunter Biden, putra dari mantan Wakil Presiden, Joe Biden, yang disebut-sebut menjadi saingan terberatnya dalam pemilihan umum 2020.

Pasal kedua mmenyebut Donald Trump telah melanggar konstitusi karena menghalangi upaya penyelidikan pemakzulan oleh DPR. Kedua pasal inilah yang menimbulkan perdebatan saat pembahasan di Komite Kehakiman DPR AS, dalam sidang selama dua hari, pada Rabu (11/12/2019) dan Kamis (12/12/2019).



Sumber: Suara Pembaruan