Di Davos, Trump Kecam Aktivis Lingkungan

Di Davos, Trump Kecam Aktivis Lingkungan
Presiden AS Donald Trump berpidato di ajang World Economic Forum di Davos, Swiss, 21 Jan. 2020. ( Foto: CBS News )
Heru Andriyanto / HA Rabu, 22 Januari 2020 | 14:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut para aktivis lingkungan sebagai "prophets of doom" -- kelompok yang selalu meramalkan hal buruk akan terjadi -- saat berpidato di ajang World Economic Forum di Davos, Swiss, Selasa (21/1/2020) waktu setempat.

"Mereka ini selalu menuntut hal yang sama – kekuasaan mutlak untuk mendominasi, mentransformasi, dan mengendalikan setiap aspek kehidupan kita,” kata Trump tentang para aktivis lingkungan.

Dia menggambarkan mereka sebagai “penerus dari para peramal bodoh masa lalu".

Dia juga menyerukan penolakan terhadap prediksi terjadinya bencana besar dan menegaskan bahwa Amerika akan berjuang mempertahankan ekonominya.

Dalam kesempatan itu, Trump mengumumkan tekad Amerika untuk bergabung dalam gerakan global untuk menanam 1 triliun pohon.

"Kami berkomitmen untuk menjaga karya Tuhan dan keindahan alam dunia kita," ujarnya.

Hadir dalam pidato tersebut aktivis lingkungan remaja asal Swedia, Greta Thunberg, yang duduk di antara pengunjung lainnya.

Segera setelah pidato Trump, Thunberg membuka sesi diskusi bertajuk “Menghindari Bencana Iklim Besar”. Remaja berusia 17 tahun itu dikenal karena seruannya kepada para siswa di seluruh dunia untuk mogok sekolah sampai upaya perlindungan lingkungan dilakukan.

Dalam pidatonya, remaja itu tidak menyebut nama Trump, tetapi mengingatkan seluruh pemimpin dunia: “Kalau-kalau Anda tidak melihatnya, bumi sedang terbakar.”

"Rumah kita sedang terbakar. Sikap diam Anda semakin menambah nyala api setiap jamnya dan kami minta Anda untuk bertindak seolah Anda menyayangi anak-anak Anda lebih dari segalanya,” ujarnya.

Dia juga mengkritik keras para politisi dan pengusaha yang terus memberikan janji kosong.

"Anda bilang: ‘Kami tidak akan mengecewakan kalian. Jangan pesimistis.’ Lalu setelah itu, hening."

Dalam Perjanjian Paris 2015, negara-negara di seluruh dunia sepakat untuk menjaga temperatur bumi tetap dalam rentang 2 derajat Celsius di atas era pra-industri.

Mereka setuju dengan kenaikan suhu 1,5C tetapi para pakar mengatakan angka itu sudah terlampaui.



Sumber: BBC