Presidennya Remehkan Corona, Ratusan Ribu Rakyat Jadi Korban

Presidennya Remehkan Corona, Ratusan Ribu Rakyat Jadi Korban
Presiden Brasil Jair Bolsonaro. (Foto: AFP)
Heru Andriyanto / HA Selasa, 12 Mei 2020 | 07:09 WIB

Beritasatu.com – Bukan Donald Trump, kalau itu yang terlintas di pikiran Anda. Namun betul, presiden yang satu ini disebut-sebut telah mengadopsi gaya dan karakter Trump dalam memimpin negaranya.

Di awal wabah, Presiden Brasil Jair Bolsonaro menyebut virus corona sebagai “flu ringan” saja. Seiring berjalannya waktu, dengan makin banyaknya warga yang terinfeksi dan tewas akibat Covid-19, Bolsonaro tetap meremehkan wabah ini.

Jika Anda simak tuntas kisah ini, maka akan terlihat betapa sikap dan pernyataan presiden berlawanan jauh dengan fakta nyata di bawah hidungnya.

Dia menentang keras lockdown, mengklaim bahwa rakyat Brasil punya imunitas alami yang bisa mengalahkan virus ini, bergabung dalam demonstrasi melawan lockdown, tidak pernah memakai masker, dan bersalaman dengan para pendukungnya di sejumlah peristiwa.

Semua ketentuan dalam protokol Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan rekomendasi para pakar penyakit menular tidak berlaku bagi pria ini.

Apakah benar rakyat Brasil punya kekebalan khusus terhadap corona yang tidak dimiliki rakyat negara lain?

Sampai Senin (11/5/2020) malam, data dari Kementerian Kesehatan Brasil sendiri mengungkap bahwa sudah ada 165.475 kasus positif dan 11.309 orang meninggal akibat Covid-19.

Rakyat Brasil tidak kebal, tetapi sama rentannya dengan bangsa lain terhadap infeksi virus corona, kalau bukan lebih parah.

Data terakhir itu menempatkan Brasil di urutan delapan terbesar di dunia dalam jumlah orang terinfeksi.

Daftar sikap dan pernyataan Bolsonaro yang begitu melawan arus dengan mempertaruhkan nyawa rakyatnya sendiri sangat mudah diingat dan akan mudah pula ditemukan kemiripannya dengan gaya Trump.

Simak berikut ini.

Menentang Lockdown
Seperti Trump, dia menentang keras kebijakan lockdown di negara bagian yang ditetapkan gubernur masing-masing.

“Karena mereka tidak mau membuka diri, kami yang akan melakukannya,” kata Bolsonaro hari Minggu (10/5/2020) lalu.

“Jutaan orang [di Brasil] sudah merasa seperti hidup di Venezuela,” tulisnya di akun Twitter.

Beberapa hari belakangan ini, sejumlah gubernur dan pemerintah kota di Brasil memperketat pembatasan sosial untuk mengurangi laju penularan.

Kota-kota besar seperti Fortaleza dan Belem menerapkan lockdown secara ketat. Sao Paulo, kota bisnis terbesar negara itu, membatasi jumlah kendaraan di jalan. Gubernur Rio de Janeiro, Wilson Witzel, juga mengatakan akan memperpanjang karantina negara bagian.

Undang Pesta
Hari Jumat lalu, Bolsonaro bicara ke pers kalau dia akan menghadiri acara berbekyu akhir pekan di istana presiden dan bahkan menjanjikan ribuan orang akan hadir. Tidak jelas seberapa serius dia dengan acara itu, yang akhirnya dibatalkan.

Pada Sabtu dia justru terlihat bersenang-senang main jetski di Danau Paranoa, kota Brasilia.

Pada Minggu, seorang warga berteriak padanya di luar istana presiden bahwa dia harus mundur atau dimakzulkan, dan Bolsonaro menjawab sinis: “Saya akan pergi nanti pada 1 Januari 2027.”

Klaim Puncak Sudah Lewat
Pekan lalu Bolsonaro mengklaim bahwa kondisi terburuk wabah virus corona di Brasil sudah lewat, saat jumpa pers di kediaman resminya di Brasilia. Dua hari setelah mengatakan itu, kasus baru di Brasil melonjak 20.000 lagi, ditambah 610 korban jiwa.

Juru bicara presiden, Jenderal Otavio Santana do Rego Barros, adalah salah satu yang dinyatakan positif mengidap Covid-19.

Presiden juga telah memecat Menteri Kesehatan Luiz Henrique Mandetta bulan lalu karena berbeda haluan dengannya dalam kebijakan menangani wabah. Mandetta digantikan Nelson Teich, yang tetap saja mengatakan perlunya aturan lockdown yang lebih ketat di sejumlah wilayah yang paling parah terdampak.

Meniru Trump
Sikapnya yang bombastis dan berani melawan arus kemungkinan besar tidak orisinal. Misalnya, dia mengatakan hal yang persis dikatakan Trump sebelumnya, bahwa efek samping penanganan Covid-19 bisa lebih buruk daripada wabah itu sendiri.

Karantina, lockdown dan pembatasan sosial akan menciptakan lebih banyak pengangguran dan kemiskinan di antara 209 juta rakyat Brasil.

Dalam pidato di depan Mahkamah Agung Kamis lalu, Bolsonaro dan juga Menteri Keuangan Paulo Guedes mengatakan ekonomi negara akan “ambruk total” jika aktivitas ekonomi tidak dibuka lagi.

"Kita tidak boleh membiarkan efek samping perang melawan virus ini lebih merugikan daripada penyakit itu sendiri," kata Bolsonaro.

Mengingatkan Anda pada seseorang?

Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro (kanan) bertemu dalam acara makan malam di Mar-a-Lago, Florida, AS, 7 Maret 2020. (AFP)

Flu Ringan
Inilah ungkapannya yang paling melegenda. Pada 24 Maret Bolsonaro menyamakan virus corona dengan penyakit “flu ringan” dalam sebuah pidato kenegaraan. Tak sampai dua bulan setelah itu, kasus positif di Brasil sudah melewati angka 130.000.

Kekebalan Alami
Ucapan konyol itu diikuti kekonyolan lain, ketika dia mengatakan bahwa rakyat Brasil tidak bisa sakit. Kalau pun terinfeksi, tidak akan menular ke orang lain karena sudah ada antibodi alami dalam tubuh rakyat, imbuhnya.

“Rakyat Brasil tidak akan terjangkiti apa pun, mereka sudah punya antibodi yang akan mencegah virus menyebar," kata presiden.

Pada 26 Maret dia mengatakan: "Rakyat Brasil harus diteliti, karena kami tidak bisa terjangkit apa pun. Anda lihat orang-orang terjun ke limbah kotoran, menyelam ke dalamnya dan tidak terjadi apa pun pada mereka.”

Entah kenapa dia berani mengatakan itu, padahal dua pekan sebelumnya sekretaris bidang pers istana Fabio Wajngarten dan sejumlah anggota kabinet lain dinyatakan positif corona setelah bepergian ke Amerika dan bertemu Trump di Mar-a-Lago, Florida.

Klaim Bebas Virus
Di akun medsos, Bolsonaro mengklaim bahwa dia sudah dua kali dites Covid-19 dan hasilnya negatif. Dia juga mengatakan bisa saja tertular tetapi gejalanya tidak dia rasakan.

Pernyataan itu membuat para petinggi Kongres dan seorang hakim federal mendesak presiden untuk menunjukkan hasil tesnya dan membuktikan kalau benar negatif.

Jaga Jarak Tak Berguna
Menurut Bolsonaro, karantina dan jaga jarak atau social distancing tidak ada gunanya untuk membuat kurva penularan virus melandai. Padahal, justru dua hal itu yang menurut para pakar penyakit menular seluruh dunia harus dilakukan.

"Dari pengamatan, dari yang kita lihat sekarang, upaya-upaya untuk melandaikan kurva ini tidak ada gunanya," kata Bolsonaro dalam pesan video di Facebook 30 April.

"Sekarang, yang akan muncul justru kerugian lain yaitu pengangguran."

Bolsonaro juga berulang kali menentang instruksi tinggal di rumah yang ditetapkan masing-masing negara bagian.

Ikut Demo
Saat para pemimpin negara lain memerintahkan rakyatnya untuk menjauhi kerumunan, dia justru ikut dalam demonstrasi massal, dua kali.

Demonstrasi tersebut menentang kebijakan lockdown, digelar di luar istana kepresidenan di Brasilia, di mana para pendukungnya berkumpul di luar pagar dan saling berdesakan untuk bisa bertemu langsung presiden.

Demonstrasi kedua terjadi pada 3 Mei. Dia muncul di tengah massa tanpa masker, dan bersalaman langsung dengan sejumlah orang. Demonstran juga membawa spanduk menuntut pembubaran Kongres dan Mahkamah Agung.

Apa Maumu?
Pada 28 April, ketika jumlah kematian akibat Covid-19 di Brasil sudah melampaui Tiongkok, Bolsonaro menggelar jumpa pers larut malam di luar istana kepresidenan.

Seorang wartawan bertanya tentang jumlah kematian itu, dan dijawab pedas: "Lalu kenapa? Maaf, tetapi apa yang sebetulnya Anda mau untuk saya lakukan?”

Dia melanjutkan bahwa meskipun nama tengahnya adalah "Messias," atau Isa Al-Masih dalam terjemahan Bahasa Indonesia, tetapi dia bukanlah seorang “pembawa keajaiban”.

"Saya minta maaf atas situasi yang kita hadapi sekarang akibat virus ini. Kami menyampaikan solidaritas bagi mereka yang telah kehilangan orang-orang yang dicintai, banyak dari mereka adalah kaum lanjut usia. Namun, begitulah hidup. Besok mungkin giliran saya," ujarnya.

Setelah jumpa pers itu disiarkan televisi, banyak warga memprotes dengan memukuli panci dan pot sambil berteriak: “Pergi dari sini!”

Bertemu Lawan
Gubernur Sao Paulo, Joao Doria, adalah lawan sengit Bolsonaro di dalam negeri saat ini.

"Presiden Jair Bolsonaro menunjukkan sekali lagi sikapnya yang merendahkan demokrasi," kata Doria dalam sejumlah cuitan di akun Twitter-nya. "Di atas itu semua, dia membujuk rakyat negeri ini untuk mengacuhkan kesehatan dan pengobatan."

Bolsonaro dan Doria kerap bentrok terkait masalah pelonggaran pembatasan sosial, termasuk dalam pertemuan mereka yang melibatkan gubernur-gubernur lain.

"Kita harus mempunyai presiden yang bisa memimpin dan mengarahkan negara ini, bukan memecah belah," kata Doria.



Sumber: Bloomberg, CNN