Vaksin Covid-19 Kemungkinan Siap Awal 2021, Ini Pemicunya

Vaksin Covid-19 Kemungkinan Siap Awal 2021, Ini Pemicunya
Ilustrasi vaksin. (Foto: Oxford Vaccine Group)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 22 Mei 2020 | 07:25 WIB

New York, Beritasatu.com - Pejabat dan ilmuwan Amerika Serikat (AS) berharap vaksin yang bisa mencegah Covid-19 akan siap pada paruh pertama 2021 atau 12 hingga 18 bulan sejak para ilmuwan Tiongkok pertama kali mengidentifikasi virus corona dan memetakan urutan genetiknya.

Proyeksi kerangka waktu ini dikutip CNBC Jumat (22/5/2020) memecahkan rekor karena biasanya penemuan vaksin memakan waktu sekitar satu dekade agar bisa disebut efektif dan aman. Pengembangan vaksin tercepat, yakni untuk penyakit gondok membutuhkan waktu lebih empat tahun dan dilisensikan pada 1967. Namun sejak saat itu, banyak yang telah berubah sehingga memberi ilmuwan harapan bahwa vaksin Covid-19 dapat tersedia awal tahun depan.

"Tidak pernah ada berapa jumlah senjata yang diarahkan untuk membuat vaksin sebelumnya," kata profesor mikrobiologi dan imunologi di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, Dr Harry Greenberg. Dia berharap para ilmuwan dapat membuat vaksin untuk virus corona dalam waktu singkat.

Sangat Agresif
Mantan kepala vaksin di GlaxoSmithKline, Moncef Slaoui kepada The New York Times mengakui bahwa kerangka waktu penemuan vaksin pada awal 2021 sangat agresif.

Para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami aspek-aspek utama virus corona, termasuk bagaimana sistem kekebalan tubuh merespons begitu seseorang terpapar. Jawabannya mungkin memiliki implikasi besar untuk pengembangan vaksin, termasuk seberapa cepat dapat digunakan untuk umum.

“Ada banyak optimisme. Ada banyak harapan. Tapi itu belum menghasilkan vaksin,” kata mantan direktur Biomedical Advances Research and Development Aurhoruty Dr. Rick Bright, mengatakan kepada anggota subkomite kesehatan House pekan lalu.

Baca juga: CEO Moderna Tepis Keragu-raguan akan Uji Vaksin Covid-19

Peneliti terbaik dunia dan negara-negara terkaya mencurahkan sumber daya untuk menemukan vaksin corona. Di AS, pemeritahan administrasi Trump menghapus semua hambatan regulasi untuk mendapatkan vaksin dalam waktu singkat.

Jalur Cepat
Regulator kesehatan menyetujui sejumlah penelitian dengan cepat guna pengembangan vaksin virus corona. Hal ini memungkinkan para ilmuwan melewati berbulan-bulan tahapan birokrasi. Lebih dari 100 vaksin sedang dikembangkan secara global pada 30 April, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Setidaknya delapan kandidat vaksin sudah dalam uji coba pada manusia.

Baca juga: Dengan Vaksin atau Tanpa Vaksin, Trump Bersikeras Buka Ekonomi AS

Pada awal pekan ini, perusahaan bioteknologi Moderna merilis data uji coba fase satu pada manusia tentang potensi vaksin. Hasilnya cukup menggembirakan, karena pasien yang disuntik vaksin memproduksi antibodi pengikat yang terlihat pada tingkat yang sama dengan orang yang telah pulih dari Covid-19. Perusahaan mengatakan akan memulai uji coba fase 3 pada bulan Juli

“Banyak optimisme di sekitar kerangka waktu 12 hingga 18 bulan jika semuanya berjalan sempurna. Kami belum pernah melihat semuanya berjalan sempurna," kata Bright, seorang ahli imunologi yang baru-baru ini mengajukan keluhan pengaduan setelah dipecat sebagai direktur BARDA.

Kekebalan
Satu pertanyaan kritis di antara para ilmuwan adalah apakah antibodi yang diproduksi sebagai respons terhadap Covid-19 mampu melindungi jika infeksi lagi, kata Dr. Jonathan Abraham, seorang profesor di Departemen Mikrobiologi dan Imunobiologi Harvard Medical School.

Covid-19 pertama kali ditemukan pada bulan Desember 2019. Sejak saat itu, banyak makalah penelitian telah diproduksi. Namun para ilmuwan belum sepenuhnya memahami bagaimana hal itu mempengaruhi tubuh atau seberapa baik seseorang terlindungi dari infeksi ulang setelah pulih dari corona.

Secara umum, antibodi yang membantu tubuh melawan infeksi sebagai respons terhadap invasi partikel atau antigen asing. Vaksin bekerja dengan menginduksi sistem kekebalan untuk menghasilkan molekul-molekul ini. Para pejabat kesehatan mengatakan tidak cukup data untuk menunjukkan bahwa antibodi corona memastikan kekebalan terhadap virus.

Banyak Asumsi
“Empat bulan setelah pandemi ini, kami tidak dapat mengatakan respons antibodi berarti bahwa seseorang kebal terhadap Covid-19,” kata Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO, Dr. Maria Van Kerkhove, mengatakan dalam konferensi pers 27 April.

Ada beberapa laporan, pasien kembali positif virus corona setelah sembuh.

Para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea menerbitkan laporan minggu ini yang mempelajari pasien yang terinfeksi ulang dengan Covid-19 setelah pulih dan dikeluarkan dari isolasi. Mereka menemukan bahwa kasus re-positif membawa antibodi yang akan melindungi mereka dari sakit lagi.

Penemuan itu membuat peneliti menyimpulkan bahwa orang yang terinfeksi ulang dan positif kembali, bukan ancaman jika dilepaskan dari isolasi. Hal itu merupakan kabar baik bagi mereka yang telah pulih dan ingin kembali bekerja. Sayangnya penemuan itu belum menjadi bukti pasti.

"Selain itu, para ilmuwan tidak tahu berapa lama kekebalan berlangsung jika antibodi memberikan perlindungan," kata Dr. Bruce Walker, seorang profesor di Harvard Medical School.

Dia juga mencatat bahwa beberapa virus, seperti influenza, sering bermutasi dan memerlukan vaksin setiap tahun. Sebuah penelitian terbaru dari peneliti di Los Alamos National Laboratory mengatakan bahwa corona telah bermutasi setidaknya 14 kali. Adapun strain baru yang dominan saat ini menyebar lebih cepat.

Gelombang Kedua
Jika corona muncul lagi pada musim gugur, para ilmuwan bertanya-tanya apakah orang yang selamat dari gelombang infeksi pertama akan memiliki antibodi untuk melawan infeksi lain, Walker bertanya. "Itu hanya akan memakan waktu karena kita harus melihat apa yang terjadi setelah dua bulan, empat bulan, enam bulan dan kemudian kita harus memantau orang untuk melihat apa yang akan terjadi kemudian," katanya.



Sumber: CNBC