270 WNI di Minneapolis dalam Keadaan Aman

270 WNI di Minneapolis dalam Keadaan Aman
Seorang personel National Guard berjaga di Minneapolis, Minnesota, Kamis 28 Mei 2020 menyusul kerusuhan yang pecah di wilayah tersebut akibat meninggalnya George Floyd dalam tahanan kepolisian setempat. (Foto: AFP / Scott Olson)
Natasia Christy Wahyuni / ALD Sabtu, 30 Mei 2020 | 14:53 WIB

Chicago, Beritasatu.com - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Chicago, Amerika Serikat (AS) memastikan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Kota Minneapolis dan St Paul (twin cities) dalam keadaan aman. Menyusul aksi demonstrasi dan kerusuhan sejak Rabu (27/5/2020), kondisi kedua kota tersebut mulai relatif tenang pada Jumat (29/5/2020) pagi.

“Hingga Jumat pukul 21.00 waktu setempat (Sabtu pukul 09.00 WIB), dari hasil kontak KJRI Chicago dengan simpul masyarakat, seluruh WNI yang berada di dua kota tersebut, sebanyak 270 orang, dalam kondisi baik dan aman,” demikian siaran pers dari KJRI Chicago, Sabtu (30/5/2020).

KJRI Chicago menyatakan telah berkomunikasi dengan para WNI di wilayah twin cities. Lewat saluran komunikasi WhatsApp dan media sosial, KJRI mengimbau agar WNI memprioritaskan keamanan dan menghindari daerah kerusuhan serta mematuhi anjuran pemerintah setempat.

“Gubernur Minnesota, Tim Walz, hari Kamis siang waktu Chicago (Kamis malam WIB) menetapkan keadaan darurat hingga Sabtu untuk kawasan Minneapolis, St Paul, dan sekitarnya,” tambah pernyataan KJRI Chicago.

Otoritas di Minnesota juga telah mengerahkan 500 pasukan Garda Nasional untuk membantu mengendalikan situasi. Sementara itu, Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, dan Wali Kota St Paul, Melvin Carter, juga menyatakan keadaan darurat lokal untuk kedua kota itu. Namun, sebagai antisipasi terjadinya aksi yang lebih besar, pemerintah setempat telah umumkan penetapan jam malam (curfew) untuk kota Minneapolis dan St Paul sejak Jumat sore waktu setempat.

Kasus meninggalnya George Floyd ini telah memicu aksi serupa di beberapa kota AS lainnya. Aksi protes yg mengusung tema "I Can’t Breathe" dan digalang oleh Lembaga Black Lives Matters telah berlangsung hari Jumat di Minneapolis, Chicago, Detroit, Columbus, Louisville, dan Des Moines. Aksi serupa diperkirakan akan berlangsung pada Sabtu di kota-kota yang sama dan kemungkinan beberapa kota lainnya.

Tindakan anarkis massa diketahui bermula dari sebuah unjuk rasa warga yang memprotes meninggalnya George Floyd, seorang penjaga keamanan berusia 46 tahun, keturunan Afrika-Amerika. Floyd meninggal diduga akibat tindakan penangkapan oleh empat oknum kepolisian setempat pada Senin (25/5/2020).

Salah satu aparat polisi, Derek Chauvin, tertangkap kamera warga menindih leher Floyd dengan lututnya selama beberapa menit, sehingga korban kesulitan bernapas. Aksi itu dilakukan dengan posisi korban direbahkan di atas aspal. Dua anggota polisi lainnya tampak juga menindih anggota tubuh Floyd lainnya, sedangkan satu anggota polisi berjaga-jaga agar warga tidak mendekati,

Unjuk rasa yang awalnya berjalan damai pada Selasa (26/5/2020) sore di area dekat kantor polisi Third Precinct sebagai tempat dinas keempat polisi yang menangkap Floyd, tapi terjadi eskalasi pada malam harinya dengan tindakan pelemparan benda-benda kepada aparat kepolisian.

Keempat polisi yg diduga terlibat dalam kematian Floyd sudah dipecat dari dinas kepolisian. Namun, yang diiinginkan para pengunjuk rasa dan keluarga Floyd adalah petugas yang menindih Floyd, yaitu Derek Chauvin, agar ditangkap dan dijatuhi hukuman karena menghilangkan nyawa seorang pria yang tidak melawan saat ditangkap. Sesuai perkembangan, Komisioner Keselamatan Publik Minnesota pada Jumat siang mengumumkan Derek Chauvin telah resmi ditahan aparat keamanan.



Sumber: BeritaSatu.com