Garda Nasional Minnesota Tes Covid-19 Seluruh Anggotanya Setelah 1 Positif

Garda Nasional Minnesota Tes Covid-19 Seluruh Anggotanya Setelah 1 Positif
Tentara Garda Nasional Minnesota berpatroli di sebuah jalan pada 29 Mei 2020 di Minneapolis, Minnesota, ketika para pemrotes menuntut keadilan tewasnya George Floyd yang. (Foto: AFP / Kerem Yucel )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 3 Juni 2020 | 06:20 WIB

Minnesota, Beritasatu.com - Tentara Garda Nasional negara bagian Minnesota Amerika Serikat (Minnesota National Guard) berencana melakukan tes Covid-19 pada semua anggotanya setelah diketahui satu orang dites positif dan sembilan lainnya menunjukkan gejala virus corona. Demikian dikatakan juru bicara Tentara Garda Nasional Minnesota kepada CNBC pada Selasa (2/6/2020).

Pasukan Garda Nasional negara bagian Minnesota mengerahkan hampir 7.000 anggotanya guna mengendalikan aksi protes massa yang dipicu kematian George Floyd, warga kulit hitam tak bersenjata oleh polisi Minneapolis berkulit putih. Polisi itu menekan leher Floyd dengan lutut selama hampir sembilan menit.

"Semua anggota kami diperiksa kesehatannya, termasuk untuk gejala Covid-19," kata Letnan Kolonel Dean Stulz dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Kerusuhan Meluas, 140.000 WNI di AS Aman

Dia menambahkan bahwa satu anggota yang diketahui positif Covid-19 telah diisolasi. “Penyaringan dan pengujian terhadap anggota yang ikut mengendalikan unjuk rasa telah menjadi bagian dari rencana kami sejak awal," kata dia.

Namun belum diketahui waktu melakukan tes Covid-19 itu. Hingga kini tidak jelas kapan anggota terinfeksi dan berapa banyak interaksi mereka dengan anggota lainnya dan publik.

"Kami telah melakukan upaya untuk mengenakan masker dan mendorong jarak sosial, namun ketika Anda membuat barikade melindungi orang atau bangunan, Anda bahu-membahu. Ini adalah risiko yang kami terima saat berseragam untuk menjaga keamanan publik dan memulihkan perdamaian dan ketertiban," kata juru bicara Pasukan Garda Nasional Minnesota Scott Hawks dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Marah, Trump Instruksikan Semua Gubernur Tindak Keras Semua Perusuh

Berita itu muncul ketika ahli epidemiologi dan kesehatan masyarakat khawatir bahwa protes massa yang meluas di AS memungkinkan virus corona menyebar cepat. Apalagi sejumlah negara-negara bagian mulai membuka kembali sektor-sektor besar ekonominya.

Direktur Pusat Kesehatan dan Bencana Masyarakat UCLA, Dr. David Eisenman mengatakan, pengujian besar-besaran terhadap semua orang yang terlibat dalam protes akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa virus tidak menyebar dari kelompok tersebut ke kelompok lainnya.

Minnesota telah melakukan 258.747 tes diagnostik corona sejak 6 Maret, menurut data yang dikumpulkan Covid Tracking Project. Hingga Mei, lebih 5 juta orang melakukan tes dengan rata-rata 5.780 tes per hari, menurut data sukarelawan yang didirikan wartawan di majalah The Atlantic.

Beberapa spesialis kesehatan dan ekonom telah berulang kali meminta AS untuk meningkatkan kemampuan pengujian tes lebih banyak di seluruh populasi. Jumlah rata-rata harian tes di AS pada Mei hampir dua kali lipat dibandingkan dengan April. Namun itu masih jauh dari program pengujian besar-besaran yang disarankan beberapa ahli epidemiologi. "Sekarang adalah saatnya kita perlu melakukan pengujian lebih banyak dari sebelumnya, guna menekan penyebaran," kata Eisenman.

Menurut dia, pemerintah perlu melakukan segala upaya untuk melindungi para pengunjuk rasa serta melindungi komunitas dan keluarga tempat mereka kembali setiap malam.

Ahli epidemiologi Emory University, Bob Bednarczyk menambahkan aktivitas selama unjuk rasa seperti berteriak dan bernyanyi akan memperburuk penyebaran virus. Apalagi keberadaan mereka dipaksa berdekatan.

Dia menambahkan bahwa penggunaan gas air mata untuk menghalau pemrotes juga dapat menyebabkan orang batuk dan menyebarkan virus lebih banyak. "Saya khawatir penggunaan gas air mata untuk memecah protes ini. Ketika terjadi pandemi penyakit pernapasan, penggunaan bahan kimia yang menyebabkan orang batuk dengan keras memicu penyebaran penyakit lebih banyak," kata dia.



Sumber: CNBC