Sebut Demonstran BLM di Washington Sedikit, Trump Dikecam Warganet

Sebut Demonstran BLM di Washington Sedikit, Trump Dikecam Warganet
Donald Trump (Foto: Dok SP)
Jeany Aipassa / JAI Senin, 8 Juni 2020 | 12:36 WIB

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dikecam warganet karena cuitannya di Twitter yang menyebut jumlah demonstran Black Lives Matter (BLM) di Washington DC sedikit atau tak sebanyak yang diperkirakan.

Dalam cuitan tersebut, Donald Trump juga memuji aparat karena melakukan pengamanan hingga demonstran tidak bisa mendekati Gedung Putih.

“Kerumunan yang jauh lebih kecil di DC. daripada yang diantisipasi. Garda Nasional, Dinas Rahasia, dan Polisi DC telah melakukan pekerjaan yang fantastis. Terima kasih!” kata Donald Trump dalam cuitan di akun Twitter-nya, Sabtu (6/6/2020).

Cuitan Donald Trump langsung mendapat respon kecaman dari warganet, yang antara lain menggunggah foto kerumunan ribuan demonstran gerakan BLM di Washington DC.

Seorang warganet bernama Nick Jack Pappas dengan akun Twitter @Pappiness, bahkan menyindir Trump bahwa tak melihat banyaknya demonstran karena bersembunyi di bunker Gedung Putih.

“Anda mungkin tidak bisa melihat kerumunan besar dari bunker Anda,” ujar Nick Jack Pappas dalam komentarnnya atas cuitan Donald Trump.

Aksi unjuk rasa BLM yang menuntut kedilan atas kematian George Floyd akibat penganiayaan yang dilakukan polisi kulit putih, berlanjut memasuki hari ke-12 di setidaknya 700 kota di 50 negara bagian di AS, Sabtu (6/6/2020).

Di Washington DC, puluhan ribu orang berbaris meneriakkan “black lives matter” dan “George Floyd”. Demonstran dilaporkan menggelar aksi secara damai di beberapa tempat penting kota itu seperti Gedung Capitol, monumen Lincoln Memorial, dan dekat Gedung Putih.

Kendaraan militer dan aparat menutup lalu lintas sebagian besar pusat kota Washington DC saat demonstran memenuhi jalan sambil berteriak dan membawa poster bertuliskan “Singkirkan lututmu dari leherku”, merujuk aksi polisi kepada Floyd sehingga menyebabkan kematiannya pada 25 Mei 2020. Aparat juga membentengi Gedung Putih dengan pagar baru dan pengamanan tambahan.

Dalam aksi yang menandai 12 hari kematian George Floyd, para demonstran menuntut Trump melakukan reformasi dengan membuat kebijakan untuk megatasi rasisme institusional di kepolisian AS.



Sumber: Suara Pembaruan, Washington Post