Studi Harvard: Covid-19 di Tiongkok Sudah Ada Sejak Agustus 2019
INDEX

BISNIS-27 545.471 (-7.6)   |   COMPOSITE 6413.89 (-106.77)   |   DBX 1221.71 (-6.51)   |   I-GRADE 188.988 (-3.35)   |   IDX30 542.994 (-9.18)   |   IDX80 145.925 (-3.17)   |   IDXBUMN20 438.706 (-13.3)   |   IDXESGL 150.111 (-3.04)   |   IDXG30 148.081 (-3.15)   |   IDXHIDIV20 477.43 (-7.88)   |   IDXQ30 153.853 (-2.35)   |   IDXSMC-COM 293.749 (-6.8)   |   IDXSMC-LIQ 373.577 (-15.72)   |   IDXV30 149.364 (-4.83)   |   INFOBANK15 1084.54 (-8.19)   |   Investor33 464.502 (-6.89)   |   ISSI 189.074 (-4.16)   |   JII 668.709 (-17.74)   |   JII70 233.837 (-6.47)   |   KOMPAS100 1296.34 (-25.94)   |   LQ45 1011.21 (-19.63)   |   MBX 1772.39 (-32.57)   |   MNC36 342.942 (-5.12)   |   PEFINDO25 336.865 (-11.6)   |   SMInfra18 332.042 (-9.57)   |   SRI-KEHATI 396.816 (-5.25)   |  

Studi Harvard: Covid-19 di Tiongkok Sudah Ada Sejak Agustus 2019

Rabu, 10 Juni 2020 | 06:50 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

Cambridge, Beritasatu.com - Studi terbaru Harvard Medical School (HMS) mengklaim Covid-19 mungkin telah beredar di Tiongkok pada awal Agustus 2019, atau pada musim gugur tahun lalu. Virus corona yang secara luas diyakini berasal dari pasar hewan liar di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pertama kali dilaporkan ke WHO pada akhir Desember 2019.

Namun menurut para peneliti HMS dikutip CNBC Rabu (10/6/2020), berdasarkan analisis traffic rumah sakit (RS) dan data mesin pencari (search engine), sudah ada aktivitas awal terkait penyakit ini di Wuhan pada musim gugur 2019.

Dalam penelitian yang diterbitkan di server DASH Universitas Harvard, Senin (8/6/2020), analis menggunakan gambar satelit dari tempat parkir di enam RS di Wuhan untuk menghitung jumlah kendaraan dan memperkirakan tren hunian RS. Jumlah kendaraan itu dibandingkan dengan tren yang terlihat selama wabah penyakit seperti flu lainnya.

Makalah penelitian juga menganalisis data mesin pencari asal Tiongkok Baidu untuk menentukan perubahan dalam pencarian untuk istilah “batuk” dan “diare” antara April 2017 dan Mei 2020. Ditemukan bahwa pada periode 2018 dan 2020 tingkat keterisian pasien RS di Wuhan secara umum cenderung naik. Namun terjadi peningkatan tajam sejak Agustus 2019, dan mencapai puncaknya pada Desember 2019.

Lima dari enam RS yang menjadi objek analisis menunjukkan pekerjaan harian tertinggi mereka antara September dan Oktober 2019. Para peneliti menemukan, hal itu bertepatan dengan peningkatan tingkat pencarian di Baidu untuk istilah "diare" dan "batuk." Studi tersebut menyebutkan volume pencarian kedua istilah itu meningkat sekitar tiga minggu sebelum lonjakan kasus Covid-19 dikonfirmasi pada awal 2020. "Peningkatan traffic RS dan data pencarian gejala di Wuhan lebih awal dari pandemi yang didokumentasikan pada Desember 2019," kata penulis penelitian.

Meskipun peneliti mengakui tidak dapat mengonfirmasi apakah peningkatan volume itu secara langsung terkait dengan virus corona. "Bukti kami menunjukkan bahwa kemunculan (virus) terjadi sebelum identifikasi di pasar seafood Huanan," kata peneliti.

Penulis laporan studi berpendapat bahwa temuan mereka mendukung teori bahwa Covid-19 sudah beredar sebelum wabah di Wuhan pertama kali didokumentasikan. Bahkan studi melaporkan bahwa virus itu mungkin sudah menyebar ke luar negeri sebelum pihak berwenang Tiongkok mendeteksi hal itu pada akhir 2019. “Pada bulan Agustus, kami mengidentifikasi peningkatan unik dalam pencarian diare yang tidak terlihat pada musim flu sebelumnya atau tercermin dalam data pencarian batuk,” kata tim peneliti.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencantumkan batuk dan diare sebagai gejala potensial Covid-19. Tim peneliti HMS menggambarkan gejala gastrointestinal (diare berair, tapi tidak bercampur darah) sebagai "fitur unik" dari virus, dan salah satu yang menjadi keluhan utama sejumlah pasien bergejala.

Laporan studi itu menyebutkan, peningkatan pencarian gejala ini kemudian diikuti peningkatan traffic tempat parkir RS pada bulan Oktober dan November 2019, serta peningkatan pencarian kata "batuk". “Walaupun kami tidak dapat menyimpulkan alasan peningkatan ini, kami berhipotesis bahwa penularan di masyarakat luas mungkin mengarah pada kasus lebih akut yang memerlukan perhatian medis, menghasilkan viral load lebih tinggi dan gejala memburuk,” kata laporan studi HMS.

Para peneliti mencatat bahwa ada beberapa batasan dalam penggunaan satelit dan mesin pencari data Baidu, seperti gangguan visibilitas akibat cuaca buruk, memperoleh data dari perusahaan satelit Tiongkok dan tidak mengetahui maksud pencarian web individu.

Tiongkok telah menghadapi kritik atas penanganan awal wabah, termasuk tuduhan bahwa negara itu menahan informasi penting dari WHO dan menunda melaporkan virus corona kepada lembaga PBB bidang kesehatan itu.

Pada bulan April 2020, otoritas Wuhan merevisi angka kematian di kota akibat Covid-19 hingga naik 50 persen setelah penyelidikan di seluruh kota.

Meski Presiden Tiongkok Xi Jinping berpendapat bahwa negaranya bertindak transparan sepanjang krisis, namun Negeri Tirai Bambu itu menolak mematuhi penyelidikan WHO terhadap penanganan global pandemi ini.

Duta Besar Tiongkok untuk Inggris mengatakan kepada Sky News bulan lalu bahwa Tiongkok akan mengizinkan penyelidikan atas wabah, tetapi tidak sekarang.



Sumber: CNBC


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

WHO Klarifikasi Pernyataan OTG Jarang Tularkan Covid-19

Pejabat WHO yang membuat pernyataan itu mengakui bahwa dia tidak punya data ilmiah yang kuat.

DUNIA | 10 Juni 2020

"Diplomasi Wolf Warrior" Tiongkok Mengincar Sekutu-sekutu Washington

Beijing berpotensi mulai "menyerang" sekutu-sekutu AS sebagai respons atas ketegangan yang terus meningkat. Ikenson menyebutnya sebagai "diplomasi wolf warrior"

DUNIA | 9 Juni 2020

Gara-gara Demonstrasi, 3.000 Kasus Covid-19 Bertambah Tiap Hari di AS

Para ahli penyakit menular memperkirakan demonstrasi gerakan “Black Lives Matter” menambah sekitar 3.000 kasus Covid-19 baru di Amerika Serikat setiap hari.

DUNIA | 9 Juni 2020

Sudah 138 Jurnalis Meninggal karena Covid-19

Angka yang dilansir PEC tersebut lebih kecil dari angka sebenarnya di lapangan.

DUNIA | 9 Juni 2020

Pandemi Covid-19 dan Demonstrasi BLM Tekan Elektabilitas Trump

Pandemi Covid-19 dan demonstrasi yang digerakan “Black Lives Matter” menekan elektabilitas Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

DUNIA | 9 Juni 2020

Infrastruktur Kesehatan di Jerman Mampu Hadapi Pandemi Covid-19

Kelebihan teknologi yang dimiliki oleh Jerman membuat negara itu terbilang sukses menahan laju infeksi dan kematian Covid-19

DUNIA | 9 Juni 2020

Lima Survei Tempatkan Biden di Atas Trump

Hasil jajak pendapat (poolling) pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) dari lima besar lembaga survei menempatkan Joe Biden di atas Donald Trump.

DUNIA | 9 Juni 2020

Selandia Baru Nyatakan Bebas Covid-19

Selandia Baru resmi mengakhiri pembatasan sosial dan penguncian pascakesembuhan pasien terakhir Covid-19.

DUNIA | 9 Juni 2020

Demo Antirasis Merebak di Eropa

Demo antirasis merebak di daratan Eropa. Puluhan ribu demonstran turun ke jalanan di kota London, Minggu (7/6), dalam aksi unjuk rasa selama dua hari berturut-turut.

DUNIA | 9 Juni 2020

Dewan Kota Setuju Pembubaran Kepolisian Minneapolis

Dewan Kota Minneapolis, Minggu (7/8), menyatakan akan melakukan perubahan radikal untuk membubarkan dan membangun lagi departemen kepolisian.

DUNIA | 9 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS