Bank Dunia: Pandemi Covid-19 Picu Resesi Terburuk Bagi Negara Maju

Bank Dunia: Pandemi Covid-19 Picu Resesi Terburuk Bagi Negara Maju
Ceyla Pazarbasioglu (Foto: Istimewa)
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 10 Juni 2020 | 14:50 WIB

Washington, Beritasatu.com - Bank Dunia menyatakan pandemi virus corona (Covid-19) memicu resesi terburuk bagi negara maju sejak Perang Dunia Kedua. Ekonomi global diperkirakan menyusut sebesar 5,2% pada tahun ini, akibat dampak pandemi Covid-19.

"Resesi akibat Covid-19 luar biasa dalam banyak hal dan cenderung menjadi yang terburuk di negara maju sejak Perang Dunia Kedua, dan kontraksi output pertama di negara berkembang setidaknya dalam enam dekade terakhir", kata Direktur Kelompok Prospek Bank Dunia, Ayhan Kose, di Washington, Amerika Serikat (AS).

Bank Dunia, dalam laporan Prospek Ekonomi Global terbaru yang dirilis di Washington, AS, Senin (8/6/2020), menyatakan bahwa pandemi juga memicu kenaikan dramatis dalam kemiskinan ekstrem di berbagai negara, termasuk negara-negara kaya.

“Perkiraan saat ini menunjukkan bahwa 60 juta orang dapat didorong ke dalam kemiskinan ekstrem pada tahun 2020 dan perkiraan ini kemungkinan akan meningkat lebih lanjut, jika pembukaan kembali ekonomi negara-negara maju sebagai penentu utama tertunda,” kata Presiden Kelompok Bank Dunia, David Malpass.

Di negara-negara kaya, kegiatan ekonomi diperkirakan menurun 7% karena pandemi Covid-19 mengganggu permintaan dan penawaran domestik, kegiatan perdagangan dan keuangan, serta menyebabkan penghasilan jatuh dan angka kemiskinan meningkat.

Sedangkan pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang akan menyusut 2,5%, yang merupakan kontraksi pertama bagi kelompok negara ini 60 tahun terakhir. Penghasilan per kapita di negara-negara berkembang diperkirakan turun 3,6%, memicu jutaan orang jatuh miskin.

Bank Dunia menyatakan, dampak terparah pandemi Covid-19 terhadap ekonomi akan dirasakan oleh negara-negara yang terpukul paling parah, antara lain Amerika Serikat, Amerika Latin, dan sebagian Eropa.

“Hal itu akan semakin diperparah jika negara-negara tersebut memiliki ketergantungan besar pada perdagangan global, pariwisata, ekspor komoditas dan pembiayaan eksternal,” bunyi laporan Bank Dunia.

Laporan Prospek Ekonomi Global Bank Dunia menunjukkan, ekonomi Amerika Serikat diperkirakan berkontraksi 6,1% tahun ini, sementara output zona euro diperkirakan akan menyusut sekitar 9,1%. Ekonomi Jepang diperkirakan akan berkurang 6,1%.

Pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan menurun di Amerika Latin dan Karibia (7,2%), di Eropa dan Asia Tengah (4,7%), di Timur Tengah dan Afrika Utara (4,2%), di Afrika sub-Sahara (2,8%), di Asia Selatan (2,7%) dan di Asia Timur dan Pasifik (0,5%).

Bersatu

Wakil Presiden Kelompok Bank Dunia untuk Pertumbuhan, Keuangan, dan Lembaga yang Adil, Ceyla Pazarbasioglu, mengatakan pandemi Covid-19 menimbulkan krisis yang cenderung meninggalkan bekas luka jangka panjang dan menjadi tantangan global yang besar.

Terkait dengan itu, Pazarbasioglu menyerukan dunia harus bersatu untuk pemulihan yang 'kuat'. Prioritas utama saat ini adalah menangani kesehatan global, kemudian memulihkan keadaan darurat ekonomi global.

"Selain itu, komunitas global harus bersatu untuk menemukan cara untuk membangun kembali pemulihan yang sekuat mungkin untuk mencegah lebih banyak orang jatuh ke dalam kemiskinan dan pengangguran," ujar Ceyla Pazarbasioglu.

Sebelumnya dalam Laporan Ekonomi Global semi-tahunan sebelumnya, yang dikeluarkan pada Januari 2020, Bank Dunia melihat ekonomi global tumbuh 2,5% tahun ini, naik dari 2,4% 2019, berkat pemulihan bertahap dalam perdagangan dan investasi.

Prediksi itu disampaikan sebelum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Covid-19 sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020. Pekan lalu, Bank Dunia merilis bab analitis dari laporan.

Prospek Ekonomi Global terbaru yang dikeluarkan Bank Dunia menekankan bahwa negara-negara berkembang dan masyarakat internasional dapat mengambil langkah sekarang, untuk mempercepat pemulihan, setelah gelombang pandemi pertama pandemi Covid-19 berkurang.

Menurut Ceyla Pazarbasioglu, pilihan kebijakan yang dibuat hari ini, termasuk transparansi utang yang lebih besar untuk mengundang investasi baru, kemajuan yang lebih cepat dalam konektivitas digital, dan perluasan besar jaring pengaman tunai bagi masyarakat miskin, akan membantu membatasi kerusakan dan membangun pemulihan yang lebih kuat.



Sumber: UN News, VoA, Suara Pembaruan