Eks Penasihat Tuduh Trump Bohong, dan Tak Cuma Sekali

Eks Penasihat Tuduh Trump Bohong, dan Tak Cuma Sekali
Foto dokumentasi pada 9 April 2018 memperlihatkan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton (kanan), sedang mendengarkan Presiden AS Donald Trump saat berbicara tentang serangan FBI di kantor pengacara Michael Cohen di Washington, DC. (Foto: AFP / Mark Wilson)
Heru Andriyanto / HA Kamis, 18 Juni 2020 | 03:35 WIB

Beritasatu.com - Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton menuduh Presiden Donald Trump berbohong lebih dari sekali selama menjabat, dalam petikan wawancara dengan stasiun televisi ABC News yang baru akan disiarkan utuh hari Minggu nanti.

"Apakah presiden berbohong?" tanya pewawancara ABC Martha Raddatz.

"Ya, benar. Dan ini bukan pertama kalinya," jawab Bolton.

Bolton juga mengatakan dia belum bicara lagi dengan Presiden sejak mengundurkan diri September tahun lalu, dan tidak yakin kalau dia akan bersedia bicara lagi dengan mantan bosnya.

Dia menegaskan tidak ada rasa saling sayang di antara mereka berdua.

Dari petikan video itu, tidak dijelaskan soal apa Trump berbohong. Promosi acara itu menyebutnya sebagai wawancara “dengan orang yang Presiden tidak mau didengar orang lain".

Bolton juga mempromosikan bukunya yang akan segera terbit dan ditentang keras oleh Gedung Putih.

Bahkan, tulisan karya Bolton itu menimbulkan masalah hukum Selasa lalu, karena pemerintahan Trump menggugat ke pengadilan berusaha agar Bolton tidak menerbitkan buku itu atau memperoleh penghasilan apa pun darinya.

Dalam gugatan disebutkan bahwa Bolton telah melanggar kesepakatan untuk tidak melakukan publikasi dan mempertaruhkan keamanan nasional karena mengungkap informasi yang sifatnya rahasia.

Gugatan yang diajukan ke pengadilan federal di Washington DC menuduh naskah setebal 500 halaman itu mengandung informasi rahasia.

"[Bolton] terikat perjanjian dengan pemerintah Amerika Serikat sebagai syarat untuk dipekerjakan di salah satu posisi keamanan nasional paling sensitif dan paling penting dalam pemerintahan Amerika Serikat, dan sekarang dia ingin membangkang dari kesepakatan itu dengan secara sepihak memutuskan bahwa proses pemeriksaan pra-penerbitan sudah selesai, dan memutuskan sendiri apakah informasi rahasia boleh dipublikasikan," kata jaksa dalam pernyataan tertulis.

Kasus Bolton akan disidangkan oleh Royce Lamberth, hakim senior mantan ketua pengadilan negeri Washington DC.

Buku Bolton sudah dikirim ke gudang sebelum jadwal rilisnya.

Penerbit bukunya, Simon & Schuster, mengatakan gugatan itu "tidak lebih sebagai upaya terbaru dari serangkaian upaya pemerintah untuk menghalangi publikasi buku yang dinilai merugikan Presiden."

Dalam pernyataannya, penerbit itu menegaskan akan mendukung penuh Bolton “untuk menceritakan kisahnya selama bekerja di Gedung Putih kepada masyarakat Amerika".



Sumber: CNN