Peretas Tiongkok Diduga Targetkan Tim Kampanye Biden

Peretas Tiongkok Diduga Targetkan Tim Kampanye Biden
Ilustrasi. (Foto: istimewa)
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 18 Juni 2020 | 15:15 WIB

Washington, Beritasatu.com - Peretas yang disponsori Tiongkok diduga menargetkan tim kampanye calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden.

Laporan itu memicu spekulasi tentang dugaan campur tangan asing terhadap penyelenggaraan pemilihan presiden (Pilpres) AS 2020, yang kemungkinan melibatkan petahana Presiden AS, Donald Trump, seperti dugaan keterkaitan campur tangan Rusia pada Pilpres AS 2016.

Laporan mengenai peretas dari Tiongkok yang menargetkan tim kampanye Biden, disampaikan oleh Google kepada tim kampanye Biden, pada Senin (15/6/2020).

Tim kampanye Biden mengeluarkan pernyataan bahwa dugaan peretasan oleh pihak asing telah diketahui dan mereka memastikan bahwa seluruh aset Biden untuk keperluan kampanye Pilpres AS 2020 dalam kondisi aman.

Sebelumnya, Shane Huntley, direktur Google Threat Analysis Group, dalam cuitannya di akun Twitter pada 4 Juni 2020, telah mengungkap tentang dugaan serangan siber yang dilakukan peretas Tiongkok pada salah satu staf kampanye Biden.

“Perusahaan telah menemukan grup APT Tiongkok yang menargetkan staf kampanye Biden dengan phishing (pengelabuan, Red),” bunyi cuitan Huntley.

Grup yang ditemukan Google disebut APT31. APT adalah akronim untuk “ancaman persisten tingkat lanjut” yang biasanya berasal dari kelompok yang mendapat dukungan dan arahan dari negara yang mapan.

Menurut ZDNet, media khusus yang mempublikasikan tentang teknologi, APT31 juga dikenal sebagai Zirconium, yaitu kelompok peretasan yang disponsori negara Tiongkok.

Zirconium telah aktif sejak awal 2016, dan secara historis menargetkan perusahaan asing untuk mencuri kekayaan intelektual, dan entitas diplomatik yang ditargetkan.

"Kelompok APT31 yang telah kami lacak untuk sementara waktu, adalah kelompok yang kami lihat terlibat dalam apa yang kami yakini adalah pengumpulan data intelijen strategis untuk hal-hal yang menarik bagi pemerintah Tiongkok," kata Luke McNamara, analis utama perusahaan cybersecurity FireEye Intelligence, seperti dikutip VoA, Rabu (17/6/2020).

Luke McNamara mengatakan bahwa peretas Tiongkok tampaknya tidak membahayakan keamanan kampanye Biden, tetapi kejadian itu mengingatkan akan campur tangan Rusia dalam Pilpres AS.

Analis memperkirakan motif utama Tiongkok untuk membobol sistem komputer tim kampanye Biden adalah untuk mengumpulkan data intelijen seperti proposal Biden untuk kebijakan AS tentang Tiongkok.



Sumber: Suara Pembaruan, VoA