Pejabat Gedung Putih Sebut Negosiasi Dagang AS-Tiongkok Sudah "Berakhir"

Pejabat Gedung Putih Sebut Negosiasi Dagang AS-Tiongkok Sudah
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri), dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, meninggalkan tempat pertemuan pemimpin bisnis di Aula Besar Rakyat di Beijing, Tiongkok, pada 9 November 2019. (Foto: AFP)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Selasa, 23 Juni 2020 | 11:21 WIB

New York, Beritasatu.com - Indeks berjangka Amerika Serikat berbalik melemah setelah penasihat perdagangan Pemerintah AS Peter Navarro mengatakan kepada Fox News, Senin (22/6/2020), kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok sudah "berakhir".

Indeks berjangka Dow Jones langsung anjlok 398 poin. Futures S&P 500 dan Nasdaq juga melemah. Melemahnya futures mengindikasikan indeks akan dibuka melemah pada perdagangan Selasa.

Padahal pada sesi sebelumnya, bursa Amerika Serikat dibuka menguat pada perdagangan Senin (23/6/2020). Dow Jones Industrial Average naik 0,6 persen ke 26.024,96. Indeks S&P 500 naik 0,7 persen ke 3.117,86. Indeks Komposit Nasdaq naik 1,1 persen ke rekor penutupan 10.056,47.

Navarro mengatakan Presiden AS Donald Trump telah menghapuskan negosiasi perdagangan dengan Tiongkok karena intelijen AS menduga kuat bahwa pandemi Covid-19 berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan, Tiongkok.

"Sudah berakhir," kata Navarro kepada Fox News.

Padahal baru pekan lalu, Pemerintah Tiongkok dikabarkan memerintahkan BUMNnya untuk meningkatkan impor produk agrikultur dari AS.

Navarro kemudian menjelaskan alasan diputusnya negosiasi. "Mereka datang ke sini pada 15 Januari untuk meneken perjanjian dagang, dan itu dua bulan setelah mereka tahu virus sudah menyebar ke mana-mana".

Laporan resmi Tiongkok kepada WHO menyatakan kasus pertama terjadi pada 8 Desember 2019, namun South China Morning Post menyebut bahwa kasus pertama sebenarnya Pemerintah Tiongkok sudah tahu sejak 17 November 2019. Dokter-dokter yang melaporkan bahaya virus ini justru diberi peringatan. Baru pada 21 Januari, Tiongkok mengakui bahwa virus ini bisa menyebar antarmanusia.

"Saat itu mereka sudah mengirim ratusan ribu orang ke negara kita untuk menyebarkan virus. Kami baru tahu soal pandemi ini beberapa menit setelah pesawat-pesawat yang mengangkut orang-orang itu lepas landas".

Navarro membandingkan tindakan Tiongkok dengan serangan Pearl Harbor pada tahun 1941. Saat itu, Jepang juga sedang mengadakan negosiasi perdamaian dengan AS lalu tiba-tiba menyerang markas militer AS Pearl Harbor di Honolulu, Hawaii.

Negosiasi dagang AS-Tiongkok bertujuan untuk memperbaiki hubungan keduanya. Washington menuduh Beijing selama ini memanipulasi mata uangnya dan mencuri teknologi AS.

Presiden Trump bulan lalu mengatakan mulai berubah pikiran soal negosiasi dagang sejak pandemi virus corona melanda AS.

"Rasanya kurang berarti bagi saya. Awalnya sangat gembira akan salah satu perjanjian terbesar dalam sejarah, tetapi sejak virus terjadi, saya berpikir, 'kok bisa mereka membiarkan itu terjadi?'," kata Trump kepada media.

Dalam kampanye akbar Trump di Oklahoma pekan lalu, Trump melontarkan pernyataan rasis terhadap Tiongkok di hadapan para pendukungnya dengan menyebut Covid-19 "kung flu".



Sumber: Fox News