CNN: Rusia Janjikan Taliban Uang untuk Nyawa Tentara Amerika

CNN: Rusia Janjikan Taliban Uang untuk Nyawa Tentara Amerika
Sejumlah anggota pasukan keamanan Afghanistan berjaga di gerbang masuk bandar udara Kandahar, yang diserang kelompok militan Taliban, Selasa (8/12) malam waktu setmpat. Serangan ini dlaporkan menewaskan 8 orang dan memicu baku tembak sepanjang malam. (Foto: Reuters / Stringer)
Heru Andriyanto / HA Senin, 29 Juni 2020 | 01:33 WIB

Beritasatu.com - Para pejabat di dinas intelijen militer Rusia atau GRU telah menawarkan hadiah tunai kepada kelompok militan Taliban di Afghanistan jika mereka membunuh pasukan Amerika Serikat atau Inggris di sana, demikian diberitakan stasiun televisi CNN, akhir pekan kemarin.

Mengutip seorang pejabat intelijen Eropa yang tidak disebutkan namanya, CNN mengatakan bahwa insentif dari Rusia itu berkontribusi pada jatuhnya korban jiwa pasukan koalisi.

Meskipun demikian, belum jelas apa motivasi Rusia dengan tindakannya itu dan berapa banyak korban yang jatuh sebagai akibatnya.

"Pendekatan yang dingin oleh GRU ini mencengangkan dan tercela. Soal motivasi mereka, itu masih membingungkan," kata sumber tersebut.

Surat kabar New York Times sebelumnya juga memuat berita terkait. Disebutkan bahwa sejak beberapa bulan yang lalu intelijen AS juga sudah menyimpulkan adanya hadiah uang Rusia tersebut.

Pihak intelijen AS sampai pada kesimpulan tersebut berdasarkan hasil interogasi para anggota Taliban yang tertangkap, tulis NYT.

Presiden Donald Trump sudah diberi tahu soal temuan intelijen itu, dan juga sudah dibahas oleh Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih pada akhir Maret.

Namun, juru bicara Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan Presiden Trump dan Wakil Presiden Mike Pence tidak diberi tahu soal kasus ini.

McEnany mengatakan pernyataannya itu untuk menjawab ketidakakuratan berita New York Times, bukan untuk membenarkan atau membantah temuan intelijen.

Direktur Intelijen Nasional John Ratcliffe juga mendukung pernyataan McEnany, bahwa berita New York Times tidak akurat.

Menurut New York Times, pemerintahan Trump membagi informasi intelijen ini dengan pemerintah Inggris, yang pasukannya diduga juga menjadi target.

Kedutaan Rusia di Washington DC mengecam berita NYT itu sebagai “tuduhan tanpa dasar" yang berdampak pada munculnya ancaman pembunuhan terhadap para diplomat Rusia di Washington dan London.

Taliban juga membantah adanya hadiah uang dari Rusia untuk nyawa tentara Amerika.

"Kami membantah keras tuduhan tersebut. Jihad selama 19 tahun di Emirat Islam tidak berutang kepada lembaga intelijen mana pun atau negara mana pun," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam pernyataan tertulis.

Pejabat intelijen Eropa yang diwawancarai CNN mengatakan para agen intelijen GRU itu bertugas di unit 29155, yang juga dituduh mengotaki rencana pembunuhan Sergei Skripal, mantan agen dinas rahasia KGB yang direkrut intelijen Inggris, dan putrinya di Salisbury, Inggris, apda 2018.

Amerika sebelumnya menuduh GRU mencampuri pemilihan presiden 2016 dan serangan siber di Partai Demokrat. Dalam beberapa tahun terakhir, GRU juga diaggap bertanggung jawab pada percobaan pembunuhan dan serangan racun di Eropa.

Kandidat presiden Joe Biden menyambar berita ini untuk mengkritik lawannya, bahwa kemenangan Trump pada 2016 lalu adalah “hadiah” untuk Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Saya jelas marah karena berita ini, dan kalau saya terpilih presiden, jangan salah, Vladimir Putin akan dihadapi," kata Biden.



Sumber: CNN