Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

India Mempercepat Otorisasi Vaksin di Dalam Negeri

Selasa, 13 April 2021 | 23:49 WIB
Oleh : Grace El Dora / EHD
Institut Serum India menyatakan menjual 100 juta dosis pertama Covishield dengan harga khusus kepada pemerintah India.

New Delhi, Beritasatu.com - Pemerintah India telah mengizinkan penggunaan darurat vaksin Sputnik V Covid-19 Rusia. Pihak berwenang pada Selasa (13/4/2021) mengatakan akan mempercepat persetujuan untuk vaksin lain yang telah melewati negara-negara besar lainnya, dikarenakan tingkat infeksi melonjak ke rekor tertinggi baru di negara tersebut.

Pemerintah telah menghadapi permintaan yang meningkat untuk menyetujui lebih banyak vaksin selama lonjakan kasus di antara 1,3 miliar populasi, sementara inokulasi massal lebih lambat dari perkiraan.

Advertisement

Sputnik V adalah obat ketiga yang mendapat otorisasi oleh pemerintah India setelah Covishield dan Covaxin dari Oxford-AstraZeneca, yang dikembangkan oleh perusahaan India Bharat Biotech.

Panel ahli SEC mengatakan vaksin Rusia harus diotorisasi dalam situasi darurat dan memang telah diterima, kata kementerian kesehatan dalam sebuah pernyataan.

G.V. Prasad, salah satu ketua perusahaan farmasi Dr Reddy's Laboratories, mengatakan perusahaannya sangat senang mendapatkan otorisasi penggunaan darurat. “Dengan meningkatnya kasus di India, vaksinasi adalah alat yang paling efektif dalam memerangi Covid-19,” ia menambahkan.

Uji Coba Pasca-Persetujuan

Kementerian Kesehatan India juga mengatakan akan mempercepat persetujuan vaksin yang tidak dibuat di India, tidak seperti tiga vaksin yang pertama yang disetujui. Tujuannya memperluas keranjang vaksin untuk penggunaan dalam negeri, serta menambah kecepatan dan cakupan vaksinasi.

Vaksin harus sudah mendapatkan otorisasi penggunaan darurat oleh regulator. Sama seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat (AS), Badan Pengobatan Eropa (EMA) dan lainnya di Inggris atau Jepang, ataupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kata kementerian itu.

Persyaratan untuk uji klinis pra-persetujuan akan diganti dengan uji coba pasca otorisasi. "Saya pikir ini penting ... pada dasarnya ini adalah satu langkah lagi untuk membuka vaksinasi ke sektor swasta dan ini bagus, karena sektor pemerintah saja tidak akan mampu menangani beban itu," ahli virus Shahid Jameel mengatakan kepada AFP, Selasa (13/4).

"Jadi jika Pfizer atau Moderna ingin memasukkan vaksin mereka melalui pemasok, bukan produsen, maka itu mungkin sekarang," imbuhnya.

Pemerintah India pada Senin (12/4/2021) melaporkan lebih dari 161.000 kasus baru, lebih dari 100.000 infeksi telah dicatat di hari ketujuh berturut-turut. Itu membuat total kasus negara menjadi hampir 13,7 juta.

Otoritas lokal telah memberlakukan jam malam dan membatasi pergerakan dan aktivitas penduduk.

Di ibu kota keuangan India, Mumbai, pihak berwenang telah memerintahkan pembangunan tiga rumah sakit tambahan masing-masing dengan 2.000 tempat tidur dalam enam minggu ke depan. Jumlah tempat tidur untuk pasien Covid-19 juga telah ditingkatkan di New Delhi.

Sputnik V, yang didukung oleh Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), sudah memiliki perjanjian produksi di India untuk menghasilkan 852 juta dosis.

Kepala Eksekutif RDIF Kirill Dmitriev mengatakan dalam sebuah pernyataan, persetujuan itu merupakan tonggak penting setelah kerja sama ekstensif pada uji klinis vaksin di India.

Dmitriev mengatakan kepada penyiar India NDTV, dosis pertama bisa siap pada akhir April atau Mei dengan peningkatan kenaikan produksi pada Juni.

"Kami yakin pada Juni, kami akan benar-benar memiliki kapasitas produksi yang baik di India dan akan menjadi pemain yang sangat berarti dalam program vaksinasi di India," ia menambahkan.

India, rumah bagi produsen vaksin terbesar di dunia, memulai upaya inokulasi pada pertengahan Januari lalu dan telah memberikan lebih dari 108 juta dosis sejauh ini.

Tetapi tujuan ambisius pemerintah untuk memvaksinasi 300 juta orang pada akhir Juli terhambat oleh laporan kekurangan vaksin di beberapa negara bagian, ditambah keraguan masyarakat atas vaksin.

Pemerintah juga telah memperlambat ekspor vaksin karena kasus yang meningkat di dalam negeri. (afp/eld)



Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


DUNIA | 13 April 2021

DUNIA | 13 April 2021

DUNIA | 13 April 2021

DUNIA | 13 April 2021

DUNIA | 13 April 2021

DUNIA | 13 April 2021

DUNIA | 13 April 2021

DUNIA | 13 April 2021

DUNIA | 13 April 2021

DUNIA | 13 April 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Tundukkan Granada, Real Betis Masuk Zona Liga Europa

#2
Di Tepian Sungai Gangga India, Puluhan Mayat Korban Covid-19 Terdampar

#3
Gibran: 12 Pemudik Dikarantina di Solo

#4
Israel Balas Serangan Roket Hamas, 20 Tewas

#5
Viral Video Iring-Iringan Rombongan Jokowi Mudik, Ini Penjelasan Istana

#6
Penentuan 1 Syawal 1442 H, Ini Penjelasan BMKG

#7
Pemudik Motor Tak Terbendung, Penyekatan di Kedungwaringin Bekasi Buka Tutup

#8
Ulama India Imbau Buka Masjid dan Sekolah untuk Pasien Covid-19

#9
Polisi: Teroris MIT Ali Kalora Penggal 2 Warga Sipil di Poso

#10
4.942 Anak di Sumatera Barat Terpapar Covid-19

TERKINI


BOLA | 11 Mei 2021

NASIONAL | 11 Mei 2021

BOLA | 11 Mei 2021

BOLA | 11 Mei 2021

BOLA | 11 Mei 2021

HIBURAN | 11 Mei 2021

GAYA HIDUP | 11 Mei 2021

NASIONAL | 11 Mei 2021

MEGAPOLITAN | 11 Mei 2021

NASIONAL | 11 Mei 2021